mwouvie

a place where my heart lives

tags : angst, mentions death, death, harsh words, bullying, seniority, suicide attempt.

Rinai hujan menyapu darah segar di kedua sisi bibirnya. Menciptakan genangan merah di atas kaki berpijak. Tidak ada yang tau apakah benar air hujan, atau air mata?

Ketiganya berpadu tak karuan, sama seperti kondisinya. Baju seragam yang semula putih bersih, jadi sedikit menghitam.

Celana biru keabuan itu, terkoyak pada bagian lutut. Sepasang mata berlalu lalang, hanya dapat menyawang. Kenapa berdiri di tengah-tengah hujan?

Dia juga melayangkan tanya. Seharusnya ikut meneduh, seharusnya tidak mengotori seragam, seharusnya—-

Seharusnya mati saja.

Goresan baru terasa perih, bukan polesannya. Para senior gila senioritas yang mengukir. Bentuk pelajaran sebab beberapa jam yang lalu, ia meninju kawanan mereka.

Dia muak, Sanzu Haruchiyo, enggan terbelenggu di bawah kendali orang lain.

Sudah cukup dua tahun mengabdi sebagai pesuruh patuh. Eksistensi Sanzu bak seekor anjing. Menuruti majikan merupakan tugas utama.

Sanzu lupa bagaimana bisa berakhir begini. Lupa kenapa mau menelan pil pahit setiap hari. Yang Sanzu ingat, dirinya tidak berguna, dan mati adalah agenda.

Sanzu tidak punya siapapun untuk dijaga, tidak akan ada yang menangisi kepergiannya. Bukankah bagus jika aku tiada?

Agar penderitaan segera berakhir. Agar rantai di lehernya terputus. Siapa sih, yang nggak mau bahagia? Manusia pendosa seperti Sanzu, juga berkhayal mencecap manisnya hidup.

Pintanya cuma ditemani. Entah daksa, maupun harsa, yang penting berdua. Namun sekali lagi, semua hanya angan yang aksa untuk digapai jemari kotornya.

“Nggak takut masuk angin?”

Satu kalimat dingin menusuk pendengaran. Belum ada yang memecah fokusnya, sampai pria bersurai dua warna mulai angkat suara.

“Nih, pegang.” Sebuah payung disodorkan sepihak.

Sanzu membeku, menyawang kosong yang asing di hadapannya. Selagi diam, lawan bicara meraih telapak tangannya. Menyelipkan gagang hitam di sela jemari yang terluka.

“Jari lo, gapapa?”

“Siapa?” Bukannya menjawab, Sanzu balik bertanya.

“Jari lo.”

“Bukan, lo siapa?”

Ia mendecak sebal, tidak habis pikir ditanyai pada waktu yang tak tepat.

“Neduh dulu,” ajaknya, menarik pergelangan tangan Sanzu menuju gazebo kecil di dekat halte.


Kantong plastik berisi plester dan obat-obatan, dibuka lebar. Sanzu heran, memperhatikan timing aneh yang seakan direncanakan.

Pelan-pelan surai dua warna menyeka darahnya. Sesekali yang diobati meringis, untung saja tidak berontak.

“Gue merhatiin lo sejak tadi. Sejak senior-senior brengsek mulai narik kerah baju lo.”

Iris zamrudnya sedikit terbelalak, cukup kaget, tetapi memaklumi. Meski ada rasa kecewa seperti, “kenapa kamu tidak menolongku?”

“Mau sampai kapan, sih?”

Sanzu tak berkutik, sedang yang satunya mengoceh tanpa henti. Melanturkan kalimat yang susah 'tuk dimengerti.

“Bisa berhenti?”

Gerakannya terhenti, kini manik mata mulai berkaca. Sanzu panik, berpikir kalau itu salahnya.

“Berhenti?” Satu pertanyaan lolos dari lisan, ternyata benaknya tak mampu menampung teka-teki.

“Nyakitin diri lo sendiri.”

Ada perasaan aneh yang berkata, kalau pria ini tidak baru saja ditemui. Seakan sudah mengenal lama. Sudah memperhatikan lika-liku hidupnya.

“Gue capek liat lo diperlakuin kayak binatang.” Isak tangis pecah, yang bersurai merah muda dibuat bingung.

Sedikit kaku dan ragu, telapak tangan tergerak menepuk bahu yang bergetar. Sampai alam bawah sadar tersambar, barulah diingat siapa yang diajak bicara.

Haitani Rindou. Seseorang yang selalu memberinya atensi lebih. Ah, tidak. Ketua kelas, wajar peduli ke semua orang. Bukankah begitu tugasnya?

Sanzu pernah merasa spesial, sesaat sebelum dilihat Rindou juga mengelus bahu yang lain.

Lambat laun mulai dilupakan si pemberi atensi. Sanzu jarang masuk kelas. Sekalipun hadir, tidak diedarkan pandangan ke sekitar. Datang, kerjakan, dan lupakan, ialah mottonya.

Belakangan Rindou juga sibuk. Mengurus olimpiade, lomba, dan urusan siswa pintar lainnya.

“Rindou?”

“Sudah ingat?”

Sanzu mengangguk kecil, selang beberapa detik, tinjuan menghantam pundaknya yang nyeri. Tidak berani mengaduh, biar Rindou pikir dirinya sekuat Iron man.

“Lo ngidap amnesia?”

“Enggak?”

“Habisnya lo ngelupain gue secepat itu?!”

Gue enggak bermaksud, tapi ya ... sudahlah.

“Sakit?” tanya Rindou sambil mengoleskan obat merah.

“Perih sedikit.”

“Maaf, Zu. Gue lemah,”

“Semua manusia juga lemah.” Lo pikir gue kuat?

“Gue paling lemah. Bego banget, harusnya gue ngelindungin lo. Tapi malah kabur kayak kucing ketakutan!”

“Memang kayak kucing.” Maniknya menatap lurus pada kecubung sayu milik Rindou. Tidak ke mana-mana, dari tadi berhenti di sana.

“Haha, kucing cupu, ya?”

“Kucing lucu.”

Menyadari Sanzu tersenyum tipis kala netra mereka bersua, menciptakan semburat merah pada pipinya.

Sialan! Rindou lekas menarik mundur bokong, setelah menempelkan plester. Takut kalau degup jantung terdengar yang di sebelah.

“Aneh!”

“Iya, aneh. Kenapa lo lucu banget?” Sanzu memiringkan kepala, merasa gemas dengan ekspresi malu-malunya.

“Bisa stop berbohong? Gue nggak butuh dihibur?”

Dari caranya mengurus luka, Sanzu jatuh cinta. Dia gila, Rindou-nya di depan mata. Sesingkat itu, hati dirampok paksa. Jatuh pada obsidian ungu Haitani Rindou. Semakin diselami, semakin tak bisa kembali.

Apa dia pantas? Menjadi satu dari berjuta insan yang menaruh hati pada sang malaikat tanpa sayap.

“Kenapa senyum-senyum terus?!”

“Karena gue lagi menikmati indahnya ciptaan Tuhan?”

“Konyol!” Keduanya terkekeh renyah, bagai potret remaja tengah bercumbu mesra.

Monolog pendek mereka, tidak punya topik utama. Namun mampu membunuh nestapa yang keduanya rasa. Sanzu lupa, bilurnya belum kering. Rindou lupa, tengah menangisi nasib yang diobati. Monolog pendek mereka, membuat lupa kalau hujan telah sepenuhnya berhenti.

“Mau gue antar pulang?” tawar Sanzu sembari meraih kunci motor dari saku celana.

“Masih punya tenaga?”

“Thanks to your laugh, bensin gue terisi penuh.” Rindou tersenyum, sebenarnya capek, hati diporak-porandakan tanpa henti.

“Rumah lo masih sama?” tanyanya, menuntun Rindou menuju tempat memarkir motor.

“Gue mau tinggal di mana lagi kalau enggak di situ?”

“Hati gue, mungkin?”

“Ngayal!” Demi Tuhan, Rindou ingin memukul pemilik surai merah muda itu.

Melihatnya kesusahan memasang pengait helm, membuat Sanzu tertawa. Dibantunya si kucing kecil yang pipinya masih kemerahan, seperti bayi baru lahir.

“Ruang hati gue masih luas, mau dibuat bangun rumah juga bisa. Rumah tangga kita misalnya.”

“Mending gue naik ojol!” seru Rindou mulai muak.

“Gue part-time jadi ojol.”

“Sejak kapan?”

“Hari ini, buat lo seorang.”

Kalau saja Sanzu tidak sakit, mungkin helm di kepala Rindou sudah dilemparkan ke wajahnya. Lagi-lagi Rindou takut. Perubahan Sanzu terlampau drastis. Dari daksa tanpa atma, menjadi daksa kelebihan jiwa.

Motor Sanzu melesat pergi, melewati jalan sepi, menuju rumah tambatan hati. Belum ada yang mengusung topik baru. Bungkam, asyik menikmati angin yang menerpa dua relung hampa.

Sanzu berantakan, sosok pandemonium yang tidak pernah tertata dalam raknya. Tanpa tujuan hidup, selalu meredup.

Sedang Rindou bertabur sinar. Sosoknya membias dalam imaji. Kalaupun dirasa dapat tergapai, itu cuma perasaan Sanzu saja. Rindou jelas punya masa depan. Jelas ke mana arahnya menuju bahagia.

Perlahan pelukan di perut Sanzu semakin mengerat. “Jangan pergi lagi,” bisik Rindou lirih, ditenggelamkan wajah mungilnya pada punggung lebar Sanzu. Menghirup ambu vanilla yang bercampur debu.

Sanzu sadar dia itu siapa, yang tidak mungkin sejajar dengannya. Malaikat tidak pantas disandingkan dengan pendosa.

“Rin, boleh gue jatuh cinta?”

Kini ada rasa hangat dari nada bicaranya. Terdengar parau, minta dikasihani.

“Kalau ada sedikit tempat buat gue singgahi, janji, nggak akan pernah gue sakiti.”

Tepat ketika lampu berwarna merah, Sanzu menoleh. Mendapati paras elok Rindou yang kaget dipandangi begitu dekat.

“Nanti kalau lampu hijau gimana?” Rindou membuang muka, tak mau ketahuan sedang tersipu.

“Hubungan kita bisa lampu hijau juga?”

“Hah?”

Belum sempat menjelaskan, rambu lalu lintas berubah warna. Mau tak mau, fokusnya kembali ke jalan raya.

“Rasanya cinta itu, bagaimana?”

Rindou terdiam, memikirkan deskripsi yang tepat untuk dijabarkan.

“Manis?” jawabnya ragu, dia sendiri belum berpengalaman dalam asmaraloka.

“Menurut gue, bittersweet.” Sanzu terlalu cinta, sampai pahit yang dirasa.

Bukan salah Rindou, melainkan dia yang tak mampu menyamakan buana. Mereka terlampau berbeda, bertolak belakang, mustahil ditakdirkan bersama.


Motor matic merahnya berhenti di depan pagar hitam yang menjulang tinggi. Bangunan bergaya kuno, jauh dari cengkraman tetangga. Yang dibonceng segera turun dipenuhi ekspresi khawatir. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengerti perkataan Sanzu yang rancu.

“Kenapa?”

“Gue? Gapapa?” Bohong. Rindou benci air muka Sanzu yang dipaksa bahagia.

“Can't you tell you're in love with me?” Rindou terlalu tergesa, lelah bermain kata. Kalau cinta, ya katakan saja. Begitu maunya.

“If yes, then can you let me go?”

“Maksud lo?”

Dilepasnya plester yang Rindou pasang dengan penuh kasih. Dua lukanya terpampang jelas, tidak lagi berdarah, hanya meninggalkan bekas susah terhapus.

“Gue cuma orang bodoh yang sok berani main cinta. Ke kamu pula.”

“Terus kenapa? Kenapa kalau ke aku?”

Ada rasa kesal mengetahui Rindou tidak lihat sekat di antara mereka. Sekat yang dipikir bisa dilalui dengan bertelanjang kaki.

“Zu, I feel the same way. Euforia ada waktu aku di dekatmu. Is that how love feels like?”

“Aku yang kacau ini, enggak pantas buat kamu.”

“Kalau gitu, biar aku yang menata kacaumu.” Mana bisa. Sanzu terlalu rapuh untuk ditata.

Cantik, pikirnya kala melihat surai dua warna acak-acakan ditiup angin malam. Jika Sanzu seorang pujangga, maka Rindou puisi yang selalu ingin dia tulis.

“Sekarang maumu apa?” Rindou menegaskan tanya. Masih enggan bermain kata.

“Pulang? Sudah malam.” Sedangkan Sanzu cuma mau pindah topik.

“I'm falling for you, Sanzu Haruchiyo.”

“But I'm falling to hell.” Dengan lembut diselipkannya anak rambut berwarna terang ke balik daun telinga, agar parasnya dapat diingat lamat-lamat.

“Sanzu....”


TIIIN TIIIN

Bising suara klakson sepeda motor memenuhi gendang telinga. Tidak hanya satu, melainkan puluhan. Para pengendara berjaket kulit hitam, dengan rupa garang menatap tajam ke arah yang dipanggil.

“Lo yang mukul temen gue?”

“Iya dia, bos. Budak belagu sok jadi pahlawan!”

“Padahal kita cuma main-main sama yang blonde di belakangnya.”

Merasa ketakutan setengah mati, Rindou meremat ujung seragam yang sudah tak karuan kondisinya.

Beberapa jam lalu, Sanzu melindungi Rindou dari makhluk bajingan yang berencana melecehkannya. Sanzu diminta membawa Rindou ke aula sekolah, tapi menolak dan berakhir baku hantam singkat. Sanzu menang, meski mereka berhasil menorehkan mahakarya.

Dia boleh terluka, boleh jadi manusia paling haram di dunia. Asal Rindou tidak kena, asal yang disayang baik-baik saja.

Tentang kenapa sempat tidak mengenali, merupakan suatu kebiasaan. Saat dirinya sara bara, Sanzu mudah hilang akal.

“Sikat, enggak?”

“Habisin aja bos, mumpung sepi!”

Bulan ini Rindou tinggal sendiri, sehingga tidak ada yang dapat menolong. Niatnya hendak mengeluarkan ponsel untuk memanggil pihak berwenang, ditahan.

“Mundur, Rin.”

“Sanzu, biar gue—–” belum selesai Rindou bicara, Sanzu mengulas senyum paksa.

“Biar gue yang urus.”

Jangan mati. Batin Rindou dalam hati, jarinya tak mau melepas pergi, namun sang empunya tak menaruh peduli.

“Nothing's gonna hurt you, Rindou. As long as you're with me, you'll be just fine. I promise,” ucap Sanzu terakhir kali, sebelum mengotori telapak tangannya. Sebelum suara sirine datang, membawa pergi pandemonium dengan kedua tangan diborgol besi.

Dalam pertarungan malam itu, Sanzu membunuh satu manusia yang hampir menyentuh semestanya.


“Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday Sanzu, happy birthday to you.” Rindou bernyanyi riang, sembari meniup lilin di atas kue. Mewakili yang bertambah umur karena tidak dapat melakukannya.

“Semangat banget?”

“Ini hari ulang tahun lo, harus semangat, dong?”

“Yailah gemes amat.”

Rindou tertawa kecil, kendati hatinya menjerit.

“Buat permohonan!”

“Mau makan MCD.”

“Ulang tahun setahun sekali, wish lo cuma makan MCD?!” Rindou memijat pelipisnya, dia masih sulit membaca jalan pikir Sanzu.

“Makan MCD bareng lo.” Senyum teduh terukir di sana, bekas luka yang terlihat seperti lukisan, membuat Rindou jatuh semakin dalam.

“Kalau gitu, tetap sehat sampai bebas. Gue janji, bakal ngajak lo ke MCD.”

“It's a date?” tanya Sanzu, yang dibalas anggukan malu.

Hubungan mereka masih abu, Sanzu belum memberi kepastian. Atau sudah? Hanya saja Rindou buta dalam menafsirkan frasa.

“Makasih kuenya.”

Makasih juga, telah bertahan hidup. “Sama-sama.”

Dari dulu Rindou tau, rencana bunuh diri Sanzu. Tau sudah berapa kali percobaan overdosis, atau lompat dari gedung lantai dua. Mungkin Sanzu tidak ingat, bahwa Rindou hadir untuk menggagalkan setiap niat buruknya.

Dari segala hal, Rindou belum tau bagaimana cara Sanzu melihatnya. Semenjak atensi pertama kali diberi, dia sudah lebih dulu merasakan cinta.

Atensi yang Sanzu kira formalitas dan tugas utama, sebenarnya afeksi yang diam-diam diberi hanya untuknya.

Kalau nanti keduanya bersua diluar jeruji besi, Rindou mau memeluk raga itu sampai keesokan hari. Semoga Tuhan memberinya umur panjang.

Semoga tidak ada puncak komedi yang menjatuhkan ekspektasinya.


“Akhirnya kita bebas!” seru pria dengan tato harimau di tengkuknya.

Sudah sepuluh tahun, ia mendekam di dalam. Penjara tidak seburuk yang diduga, beruntung Sanzu ada di lapas orang-orang ber-etika.

“Gue masih bingung, jelas itu pembelaan diri. Lo berusaha ngelindungin orang lain, tapi mengaku sengaja membunuh?”

“Sayangnya gak ada saksi. Orang yang lo selametin, kabur gitu aja? Enggak adil!” sambungnya berseru kecewa.

“Gue yang suruh.”

“Lo gila?!”

Sehari sebelum persidangan, Sanzu meminta Rindou tidak datang. Tentu, ditolak mentah-mentah. Mereka sama-sama berusaha melindungi, meski berakhir menyakiti.

Sanzu menghubungi guru olahraga, satu-satunya guru yang dipercaya. Memohon agar Rindou diberi tugas olimpiade, dipindahkan keluar kota, atau apapun, sehingga terlalu sibuk untuk memberi kesaksian.

Membunuh itu salah. Dirinya bukan Tuhan yang dapat seenaknya mencabut nyawa. Niatnya memang sengaja, antara dendam atau pembelaan diri, dia tidak peduli. Kalau sudah membunuh, maka harus ada hukuman yang ditempuh.

Pikirnya memberi jarak dari Rindou, merupakan keputusan yang baik. Ia enggan hidup belahan jiwanya ikut kacau balau.

“Mau gue antar pulang?” tawar si Tato harimau seraya menyodorkan helm.

“Gue ada janji,” balas Sanzu, segera menaiki bis, melesat pergi menuju tempat yang keduanya rencanakan dulu.

Seporsi ayam dan nasi hangat mengepulkan berjuta rasa gurih di indera penciuman. Sanzu belum menyentuh sejak lima menit hidangan tiba. Sibuk memperhatikan jarum jam, menunggu yang tak kunjung datang.

“Sudah telat,” ucapnya bermonolog seorang diri. Lantas tungkainya dibawa pergi, ada tempat lain yang menanti.


Diusapnya nisan penuh lumut hijau. Nampaknya tidak ada yang membersihkan. Sebuket bunga mawar merah turut dibawa untuk menemani makam.

“Aku terlambat, ya?” Bahunya naik turun, tangis memburai tanpa aba-aba. Membaca inisial yang lama tak ditemui, terukir jelas di sana.

“Bunda...,” panggil Sanzu bergetar hebat, menyadari kegagalannya sebagai anak.

Walaupun tanpa kenangan, beliau itu bunda Sanzu. Yang bersusah payah membelikan susu sambil menyumpah serapah. Bunda tidak pernah mengucap bangga, menyuruh mati adalah kalimat yang sering diterima.

Tetap dihargai tiap jerih payah yang bundanya beri. Sanzu utang budi, belum sempat membalas, beliau sudah pergi. Ada surat yang pernah dikirim sebelum napas terakhirnya, “tetap hidup,” katanya.

“Sanzu hidup, bun. Tapi, kok .... bunda tidur?”

Drrtt Drrrtt

Merasakan ponselnya bergetar, Sanzu menyeka air mata menggunakan lengan baju.

“Maaf bunda, Sanzu mampir sebentar. Lain waktu, aku janji datang lagi.”


Hiruk pikuk khalayak ramai memenuhi bandara. Memikirkan urusan masing-masing, enggan lihat ke samping. Dari ratusan bahkan ribuan jiwa, yang dicari cuma satu. Haitani Rindou.

Bodoh! Sanzu mengumpati kelalaiannya dalam menyimpan nomor. Pantas ketika diketik, jenama favoritnya tidak muncul.

Ayo berpikir positif! Sanzu juga manusia yang benaknya dipenuhi dugaan negatif. Kulit kering di sisi kuku jari tangannya dikupasi sampai berdarah.

Terdengar langkah tergesa berlarian ke arahnya. Surai ungu sepanjang bahu tengah membungkuk, mengatur pernapasan.

Siapa?

Tadinya Sanzu hendak pindah, tetapi saat dengar suara yang familiar, geraknya terhenti.

“Sorry, tadi pesawatnya delay.”

Yang berbicara mendongak, menarik ujung bibirnya ke atas. Manik sayu itu masih sama. Masih membuatnya jatuh cinta.

“Hai!”

“Halo, Rindou.”

Tidak butuh waktu lama untuk membawa Rindou ke dalam peluknya. Perbedaan tinggi mereka, membuat Sanzu dapat mengubur rupa pada perpotongan leher Rindou.

Terlalu erat, cara Sanzu mendekapnya.

“Kangen gue, ya?”

Sanzu terkekeh, dilepasnya pelukan canggung mereka. Salah satu alis Rindou terangkat, nampaknya ia kecewa.

Sedetik kemudian, Rindou merasa bibirnya berat. Yang tadinya kering, kini mulai basah ditimpa yang tercinta. Sanzu selalu jadi yang pertama. Pencuri hati, dan kecupan Haitani muda.

Rindou mau Sanzu jadi yang terakhir. Cuma Sanzu yang boleh, cuma Sanzu yang bisa.

Mereka sama-sama baru, dalam hubungan yang pelik. Keduanya mau coba. Coba luka yang pahit bercampur manis seperti kata Sanzu. Bittersweet.

Sayang hanya berakhir singkat. Sanzu masih cukup waras untuk tau waktunya berhenti.

“Udang rebus!” ledeknya, mencubit kedua pipi merah Rindou.

“Salah lo!”

Apa yang membuatmu berpikir aku begitu istimewa? Pertanyaan serupa timbul di benak keduanya. Namun terlalu malu, sehingga memilih bisu.

“Jadi, rasanya cinta bagaimana?” tanya Rindou mengingat pertanyaan aneh yang pernah dilontarkan Sanzu sepuluh tahun lalu.

“Kayak kamu, manis.”

“Jangan ngelantur!”

“Kamu presensi terindah yang pernah aku temui,” puji Sanzu, mengacak-acak surai ungu yang berkilauan.

“So, you love me?”

“Lebih dari itu?” Tawa Rindou pecah, yang ditertawai tidak tau di mana letak humornya.

“Apa yang lebih dari cinta?”

“Enggak tau? Aku ngasal, biar keren.”

“Sanzu memang aneh.”

“Tapi Rindou suka.” Skakmat.

“Ya ... iya...,” balasnya tersipu, disembunyikan ekspresi itu pada bahu Sanzu.

“Mau pulang?” Yang ditanya tidak menjawab, masih sibuk mendiamkan kupu-kupu.

“Sederhananya, kamu yang buat aku jatuh cinta.”

“Diem!”

“Kalau dunia nggak baik ke kamu, gapapa. 'Kan masih ada aku.”

“Gue pulang,” pamit Rindou berjalan lebih dulu. Tidak ada yang bisa diajak kompromi. Entah Sanzu maupun jantungnya, sama-sama gila.

Sanzu menyusul, menyelipkan jemari di antara milik Rindou yang lebih kecil.

Iya, Sanzu lupa akan fakta. Biarlah dia memiliki Rindou sekarang. Urusan semesta dan takdir, bisa dipikirkan nanti.

“Can I kiss you again?”

“SINTING, ENGGAK!”

ㅤㅤSudah satu tahun berlalu dan hatiku masih memilihmu.

ㅤㅤSulit untuk melepas, meski lisanku berkata “ikhlas.”

ㅤㅤAda banyak cerita serta kenangan lama yang terukir jelas dalam ingatan.

ㅤㅤAku berada di sana lebih dulu. Dia tidak pernah tau, seberapa dalam lukamu.

ㅤㅤTidak tau, saat-saat tergelapmu. Tidak mengerti, segala keraguanmu.

ㅤㅤAku yang menyembuhkan, aku yang memulihkan, kenapa dia yang kau banggakan?

ㅤㅤPhuwin, bisakah aku menjadi Pond-mu?

ㅤㅤ”PondPhuwin one year anniversary.”

ㅤㅤJemariku mengepal, perlahan aku menarik napas dalam-dalam. Kalimat tersebut sedikit merapuhkan hatiku.

ㅤㅤNantinya semua tamu akan membawa beberapa balon. Pond yang meminta.

ㅤㅤIa menghubungiku minggu lalu. Awalnya aku tak mau, tapi ini sudah saatnya merelakan bukan?

ㅤㅤDia telah melupakan semua kenangan bersamaku. Pasti aku juga bisa. Harus.

ㅤㅤPhuwin tidak perlu tau perasaanku. Cukup diriku dan Tuhan saja.

ㅤㅤKini semua orang tengah mengitari dua insan yang berdiri di tengah lapangan.

ㅤㅤMenyawang senyumnya yang terus mengembang, membuatku ikut senang.

ㅤㅤJika Pond adalah tempat bahagianya, lantas aku bisa apa?

ㅤㅤ”Happy anniversary,” ucap Pond seraya menyerahkan setangkai bunga mawar.

ㅤㅤHaha, seketika aku teringat pada mawarku yang tak pernah sampai padanya.

ㅤㅤPhuwin menerima, kemudian mereka mendekap raga satu sama lain.

ㅤㅤAneh rasanya, sebab dulu hanya aku yang melakukan itu.

ㅤㅤKetika mendengar aba-aba, kami menerbangkan balon masing-masing.

ㅤㅤAku mengeluarkan sebuah spidol, menulis jenama yang pernah 'hampir' kugapai.

ㅤㅤ' Phuwin '

ㅤㅤ”Aku menyukaimu,” ucapku.

ㅤㅤKemudian aku melepasnya, membiarkan ia terbang bersama rasa yang pernah ada.

ㅤㅤPhuwin itu bagaikan ikan di atas langit, mustahil dapat kuraih.

ㅤㅤ”Selamat.” Aku menyodorkan telapak tangan ke arahnya.

ㅤㅤPhuwin segera menjabat, dan memeluk tubuhku.

ㅤㅤ”Makasih sudah menemaniku selama ini, kak.”

ㅤㅤPelan-pelan aku menepuk punggungnya, seperti yang biasa kulakukan. Dulu.

ㅤㅤ”Kini, nanti, dan setelah ini, semoga bahagia ya ... bersamanya.”

ㅤㅤLalu aku beralih menepuk pundak Pond, seolah memberikan semua tanggung jawab yang sebelumnya kupegang teguh.

ㅤㅤ”Jaga dia baik-baik.”

ㅤㅤ”I will.”

ㅤㅤKini, nanti, dan setelah ini, aku tak lagi menjadi satu-satunya yang menemani.

ㅤㅤNamun yang pasti, aku sudah lega.


ㅤㅤAku meninggalkan kerumunan, memilih duduk seorang diri di kursi taman, tempatku dan Phuwin berbagi cerita. Dulu.

ㅤㅤ”Nih,” ucap seseorang yang mendadak memberi sebotol air mineral.

ㅤㅤ”Untukku?”

ㅤㅤ”Dari tadi kamu kelihatan pucat.”

ㅤㅤAku tersenyum tipis dan menerima pemberiannya. Kemudian ia ikut duduk di sampingku.

ㅤㅤ”Tidak ikut merayakan?” tanyaku.

ㅤㅤ”Kebetulan aku melihatmu pergi, jadi kuikuti.”

ㅤㅤ”Kenapa?”

ㅤㅤ”Berdua lebih baik daripada sendiri,” balasnya. Ia tersenyum lebar, senyum yang mirip dengan Phuwin.

ㅤㅤ”Aku Louis.”

ㅤㅤ”Neo.”

ㅤㅤSaat telapak tangan kami bersentuh, aku kembali merasakan hal yang sama.

ㅤㅤEuforia.


Euforia ; perasaan gembira yang berlebihan

ㅤㅤSudah satu tahun berlalu dan hatiku masih memilihmu.

ㅤㅤSulit untuk melepas, meski lisanku berkata “ikhlas.”

ㅤㅤAda banyak cerita serta kenangan lama yang terukir jelas dalam ingatan.

ㅤㅤAku berada di sana lebih dulu. Dia tidak pernah tau, seberapa dalam lukamu.

ㅤㅤTidak tau, saat-saat tergelapmu. Tidak mengerti, segala keraguanmu.

ㅤㅤAku yang menyembuhkan, aku yang memulihkan, kenapa dia yang kau banggakan?

ㅤㅤPhuwin, bisakah aku menjadi Pond-mu?

ㅤㅤ”PondPhuwin one year anniversary.”

ㅤㅤJemariku mengepal, perlahan aku menarik napas dalam-dalam. Kalimat pada slogan tersebut sedikit merapuhkan hatiku.

ㅤㅤNantinya semua tamu akan membawa beberapa balon. Pond yang meminta.

ㅤㅤIa menghubungiku minggu lalu. Awalnya aku tak mau, tapi ini sudah saatnya merelakan bukan?

ㅤㅤDia telah melupakan semua kenangan bersamaku. Pasti aku juga bisa. Harus.

ㅤㅤPhuwin tidak perlu tau perasaanku. Cukup diriku dan Tuhan saja.

ㅤㅤKini semua orang tengah mengitari dua insan yang berdiri di tengah lapangan.

ㅤㅤMenyawang senyumnya yang terus mengembang, membuatku ikut senang.

ㅤㅤJika Pond adalah tempat bahagianya, lantas aku bisa apa?

ㅤㅤ”Happy anniversary,” ucap Pond seraya menyerahkan setangkai bunga mawar.

ㅤㅤHaha, seketika aku teringat pada mawarku yang tak pernah sampai padanya.

ㅤㅤPhuwin menerima, kemudian mereka mendekap raga satu sama lain.

ㅤㅤAneh rasanya, sebab dulu hanya aku yang melakukan itu.

ㅤㅤKetika mendengar aba-aba, kami menerbangkan balon masing-masing.

ㅤㅤAku mengeluarkan sebuah spidol, menulis jenama yang pernah 'hampir' kugapai.

ㅤㅤ' Phuwin '

ㅤㅤ”Aku menyukaimu,” ucapku.

ㅤㅤKemudian aku melepasnya, membiarkan ia terbang bersama rasa yang pernah ada.

ㅤㅤPhuwin itu bagaikan ikan di atas langit, mustahil dapat kuraih.

ㅤㅤ”Selamat.” Aku menyodorkan telapak tangan ke arahnya.

ㅤㅤPhuwin segera menjabat, dan memeluk tubuhku.

ㅤㅤ”Makasih sudah menemaniku selama ini, kak.”

ㅤㅤPelan-pelan aku menepuk punggungnya, seperti yang biasa kulakukan. Dulu.

ㅤㅤ”Kini, nanti, dan setelah ini, semoga bahagia ya ... bersamanya.”

ㅤㅤLalu aku beralih menepuk pundak Pond, seolah memberikan semua tanggung jawab yang sebelumnya kupegang teguh.

ㅤㅤ”Jaga dia baik-baik.”

ㅤㅤ”I will.”

ㅤㅤKini, nanti, dan setelah ini, aku tak lagi menjadi satu-satunya yang menemani.

ㅤㅤNamun yang pasti, aku sudah lega.


ㅤㅤAku meninggalkan kerumunan, memilih duduk seorang diri di kursi taman, tempatku dan Phuwin berbagi cerita. Dulu.

ㅤㅤ”Nih,” ucap seseorang yang mendadak memberi sebotol air mineral.

ㅤㅤ”Untukku?”

ㅤㅤ”Dari tadi kamu kelihatan pucat.”

ㅤㅤAku tersenyum tipis dan menerima pemberiannya. Kemudian ia ikut duduk di sampingku.

ㅤㅤ”Tidak ikut merayakan?” tanyaku.

ㅤㅤ”Kebetulan aku melihatmu pergi, jadi kuikuti.”

ㅤㅤ”Kenapa?”

ㅤㅤ”Berdua lebih baik daripada sendiri,” balasnya. Ia tersenyum lebar, senyum yang mirip dengan Phuwin.

ㅤㅤ”Aku Louis.”

ㅤㅤ”Neo.”

ㅤㅤSaat telapak tangan kami bersentuh, aku kembali merasakan hal yang sama.

ㅤㅤEuforia.


Euforia ; perasaan gembira yang berlebihan

ㅤㅤSudah satu tahun berlalu dan hatiku masih memilihmu.

ㅤㅤSulit untuk melepas, meski lisanku berkata “ikhlas.”

ㅤㅤAda banyak cerita serta kenangan lama yang terukir jelas dalam ingatan.

ㅤㅤAku berada di sana lebih dulu. Dia tidak pernah tau, seberapa dalam lukamu.

ㅤㅤTidak tau, saat-saat tergelapmu. Tidak mengerti, segala keraguanmu.

ㅤㅤAku yang menyembuhkan, aku yang memulihkan, kenapa dia yang kau banggakan?

ㅤㅤPhuwin, bisakah aku menjadi Pond-mu?

ㅤㅤ”PondPhuwin one year anniversary.”

ㅤㅤJemariku mengepal, perlahan aku menarik napas dalam-dalam. Kalimat pada slogan tersebut sedikit merapuhkan hatiku.

ㅤㅤNantinya semua tamu akan membawa beberapa balon. Pond yang meminta.

ㅤㅤIa menghubungiku minggu lalu. Awalnya aku tak mau, tapi ini sudah saatnya merelakan bukan?

ㅤㅤDia telah melupakan semua kenangan bersamaku. Pasti aku juga bisa. Harus.

ㅤㅤPhuwin tidak perlu tau perasaanku. Cukup diriku dan Tuhan saja.

ㅤㅤKini semua orang tengah mengitari dua insan yang berdiri di tengah lapangan.

ㅤㅤMenyawang senyumnya yang terus mengembang, membuatku ikut senang.

ㅤㅤJika Pond adalah tempat bahagianya, lantas aku bisa apa?

ㅤㅤ”Happy anniversary,” ucap Pond seraya menyerahkan setangkai bunga mawar.

ㅤㅤHaha, seketika aku teringat pada mawarku yang tak pernah sampai padanya.

ㅤㅤPhuwin menerima, kemudian mereka mendekap raga satu sama lain.

ㅤㅤAneh rasanya, sebab dulu hanya aku yang melakukan itu.

ㅤㅤKetika mendengar aba-aba, kami menerbangkan balon masing-masing.

ㅤㅤAku mengeluarkan sebuah spidol, menulis jenama yang pernah 'hampir' kugapai.

ㅤㅤ' Phuwin '

ㅤㅤ”Aku menyukaimu,” ucapku.

ㅤㅤKemudian aku melepasnya, membiarkan ia terbang bersama rasa yang pernah ada.

ㅤㅤPhuwin itu bagaikan ikan di atas langit, mustahil dapat kuraih.

ㅤㅤ”Selamat.” Aku menyodorkan telapak tangan ke arahnya.

ㅤㅤPhuwin segera menjabat, dan memeluk tubuhku.

ㅤㅤ”Makasih sudah menemaniku selama ini, kak.”

ㅤㅤPelan-pelan aku menepuk punggungnya, seperti yang biasa kulakukan. Dulu.

ㅤㅤ”Kini, nanti, dan setelah ini, semoga bahagia ya ... bersamanya.”

ㅤㅤLalu aku beralih menepuk pundak Pond, seolah memberikan semua tanggung jawab yang sebelumnya kupegang teguh.

ㅤㅤ”Jaga dia baik-baik.”

ㅤㅤ”I will.”

ㅤㅤKini, nanti, dan setelah ini, aku tak lagi menjadi satu-satunya yang menemani.

ㅤㅤNamun yang pasti, aku sudah lega.


ㅤㅤAku meninggalkan kerumunan, memilih duduk seorang diri di kursi taman, tempatku dan Phuwin berbagi cerita. Dulu.

ㅤㅤ”Nih,” ucap seseorang yang mendadak memberi sebotol air mineral.

ㅤㅤ”Untukku?”

ㅤㅤ”Dari tadi kamu kelihatan pucat.”

ㅤㅤAku tersenyum tipis dan menerima pemberiannya. Kemudian ia ikut duduk di sampingku.

ㅤㅤ”Tidak ikut merayakan?” tanyaku.

ㅤㅤ”Kebetulan aku melihatmu pergi, jadi kuikuti.”

ㅤㅤ”Kenapa?”

ㅤㅤ”Berdua lebih baik daripada sendiri,” balasnya. Ia tersenyum lebar, senyum yang mirip dengan Phuwin.

ㅤㅤ”Aku Louis.”

ㅤㅤ”Neo.”

ㅤㅤSaat telapak tangan kami bersentuh, aku kembali merasakan hal yang sama.

ㅤㅤEuforia.


Euforia ; perasaan gembira yang berlebihan

ㅤㅤKedua netraku terpaku, pada lelaki yang duduk termangu, menunggu sesuatu.

ㅤㅤIngin rasanya kuhampiri, menanyakan bagaimana kabarnya hari ini. Tetapi, yang ia tunggu seketika mendatangi.

ㅤㅤ”Mereka barengan mulu, pacaran ya?” bisik beberapa siswi dibelakangku.

ㅤㅤAku menghela napas pasrah, pikirku pun juga sama.

ㅤㅤPhuwin, bisakah aku menjadi Neo-mu?

ㅤㅤDia yang bertahun-tahun mencuri pandanganku, bernama Phuwin.

ㅤㅤ Seseorang dengan kulit putih, paras lucu, serta senyuman yang teduh.

ㅤㅤSedangkan disampingnya, dia Neo. Kakak kelas yang berani dan berwibawa. Semua orang menyukainya.

ㅤㅤAku dan Phuwin berada di kelas yang sama. Sebuah kesempatan emas, tapi kami tidak pernah berbincang.

ㅤㅤSeolah ada dinding di antara kubuku, dan kubunya. Seolah beda dunia, seolah kita tidak tercipta untuk saling mencinta.

ㅤㅤKupikir semuanya sudah berakhir. Aku kalah, saatnya mundur dan mengalah.

ㅤㅤTapi ternyata, semesta masih berpihak padaku.

ㅤㅤ”Pond dan Phuwin, kalian satu kelompok.”

ㅤㅤBola mataku terbelalak lebar, aku langsung melirik ke arahnya. Phuwin menanggapi dengan senyuman kecil.

ㅤㅤBeberapa menit yang lalu, kami diminta mengambil kertas berisi nama seisi kelas.

ㅤㅤBagaikan takdir, aku mendapatkan namanya, begitupun sebaliknya.


ㅤㅤ”Mau ke sana?” tanya Phuwin sambil menunjuk biang lala.

ㅤㅤ”Nanti saja, kita mengelilingi kulinernya dulu,” balasku yang dijawab dengan anggukan.

ㅤㅤKami berdua mendapatkan tugas untuk mengobservasi lokasi wisata. Bagiku rasanya sudah seperti kencan pertama.

ㅤㅤPhuwin memainkan beragam permainan, sedangkan aku hanya ikut tertawa sambil diam-diam memotretnya.

ㅤㅤSial, melihatnya terus tersenyum, membuatku semakin tidak tau diri.

ㅤㅤTolong izinkan aku untuk egois, aku mau dia. Aku mau kita berdua tanpa orang ketiga.

ㅤㅤKak Neo, maaf ... bolehkah aku merebutnya?

ㅤㅤ”Pond,” panggilnya.

ㅤㅤ”Iya?”

ㅤㅤLalu Phuwin memakaikan sebuah topi berbentuk telinga kelinci di kepalaku.

ㅤㅤ”Lucu!” serunya dengan mata yang menyipit tiap kali menunjukkan gigi.

ㅤㅤTahan Pond, bibir itu masih belum menjadi milikmu. Ayo sadar!

ㅤㅤWaktu berlalu dengan cepat, kini langit sudah menggelap, menyisakan bintang bersama bulan yang belum seutuhnya.

ㅤㅤManik mata Phuwin berbinar tiap kali melihat pemandangan di luar kaca.

ㅤㅤRencana terakhirku hampir tuntas. Kami sedang berada dalam biang lala, hanya saja diriku belum siap angkat suara.

ㅤㅤTidak ada lain kali. Mari selesaikan hari ini. Meski nanti berakhir patah hati, tidak apa-apa, yang penting percaya diri.

ㅤㅤ”Phuwin....”

ㅤㅤ”Huh?” Phuwin pun mengalihkan pandangannya ke arahku.

ㅤㅤ”Aku tau kamu sudah terikat janji. Silahkan jika mau menolak atau membenci, itu terserah padamu.”

ㅤㅤPhuwin masih terdiam penuh tanya, menungguku menyelesaikan kata.

ㅤㅤ”Aku menyukaimu,” ucapku sembari memejam, tidak sanggup melihat reaksinya.

ㅤㅤSamar-samar kudengar Phuwin menghembuskan napas panjang.

ㅤㅤKemudian aku membuka mata, menyawangnya yang ternyata kembali menikmati pemandangan dari atas biang lala.

ㅤㅤApakah itu sebuah penolakan?

ㅤㅤ”Pond....”

ㅤㅤ”Kalau dunia cuma punya kita, kamu mau apa?” tanyanya.

ㅤㅤAda jeda cukup lama, sebab aku masih mencerna. Pasalnya ia bertanya tanpa bertatap mata.

ㅤㅤ”Kalau dunia cuma punya kita, aku mau bersamamu sampai tua.”

ㅤㅤ”Kalau dunia cuma punya kita, aku mau mengajakmu berkeliling kota,” lanjutku.

ㅤㅤLantas Phuwin tersenyum tipis, sedikit terlihat miris.

ㅤㅤ”Sayangnya dunia punya banyak cerita. Bukan cuma kita tokoh utamanya,” balasnya seraya melirikku dengan air mata yang mengalir di pipi.

ㅤㅤ”Abaikan saja perkataanku kalau itu membuatmu terganggu.”

ㅤㅤ”Kata siapa aku mempunyai janji?” tanya Phuwin.

ㅤㅤTiba-tiba salah satu tangannya yang bebas mengusap punggung telapak tanganku.

ㅤㅤ”Aku juga ... menyukaimu.”

ㅤㅤPada saat itu, detik itu juga, aku merasa menjadi manusia paling bahagia.

ㅤㅤ”Sayangnya kita sama-sama pria.”

ㅤㅤTapi dunia tidak mengizinkanku terlalu berbangga diri.

ㅤㅤ”I can't love you in public.”

ㅤㅤAku memang tidak tertolak, dia juga merasakan hal yang sama. Hanya kecewa.

ㅤㅤKecewa sebab dunia menjadi penghalangnya. Pandangan orang lain menjadi hambatan bagi Phuwin untuk menerima hubungan kami yang masih tabu.

ㅤㅤ”Aku akan mengikuti apapun keputusanmu,” balasku dengan memaksakan seulas senyum.


ㅤㅤAku terus menunggu, sampai pada hari ulang tahunnya. Hari di mana aku muak, hari di mana aku mau dunia tau bahwa dia milikku.

ㅤㅤSaat puncak acara, sebelum Phuwin meniup lilin dan mengucap harapan. Aku mengecup keningnya, dan tentu saja semua mata langsung tertuju pada kami.

ㅤㅤPhuwin sempat terkejut, bahkan kedua matanya berkaca-kaca.

ㅤㅤSetelah suara tepuk tangan mulai terdengar, Phuwin terlihat sedikit tenang.

ㅤㅤ”Be my boyfriend?” tanyaku tanpa basa-basi. Bisa kurasakan ia diam-diam mencubit pinggangku.

ㅤㅤLalu aku meraih jemarinya yang bergetar.

ㅤㅤ”Dunia memang bukan cuma punya kita.”

ㅤㅤ”Jangan dengarkan kalimat mereka. Aku mau kamu hanya mempedulikanku.”

ㅤㅤ”Jadi Phuwin—–” belum selesai aku berbicara, ia segera menyela.

ㅤㅤ”Iya, aku mau.”

ㅤㅤSorakan dari para tamu memenuhi gendang telingaku. Tampaknya hari ini menjadi hari paling mengesankan bagi semua orang.

ㅤㅤHari di mana ceritaku berakhir dengan akhir bahagia.

ㅤㅤNamun saat aku melihat tetesan darah dan setangkai bunga mawar tergeletak di lantai.

ㅤㅤAku menarik kembali opiniku tadi.

ㅤㅤSegelintir manusia berkata, 'Kalau kamu menulis nama pujaan hati di langit malam penuh bintang, maka dia akan menjadi milikmu.'

ㅤㅤDapatkah diri ini percaya? Siapa yang tau? Mungkin benar-benar terjadi.

ㅤㅤJenama di atas sana, yang tengah menemani purnama. Terukir jelas walau tak kasat mata. Akankah kamu menjadi nyata?


ㅤㅤ”Aku laper, beli makan yuk?” ajakku.

ㅤㅤ”Ayo!”

ㅤㅤKami berjalan beriringan, sesekali punggung telapak tangan kami bersentuh secara tidak sengaja.

ㅤㅤAnehnya netraku terus terpaku, ingin segera meraihmu, tetapi aku malu.

ㅤㅤ”Way, awas!”

ㅤㅤSecara tiba-tiba, Kim menarik lenganku untuk menepi ke samping. Ternyata aku hampir saja menabrak tembok.

ㅤㅤ”Way?”

ㅤㅤ”Hm??”

ㅤㅤ”Lagi mikirin apa?”

ㅤㅤKamu

ㅤㅤ”E-enggak ada kok! aku laper banget, jadi gak fokus hehe!”

ㅤㅤDasar Way, pengecut.

ㅤㅤ”Oke kalau gitu, ayo cepat!” Kim kembali menarik lenganku, mengajakku sedikit berlari menuju kantin.

ㅤㅤTerus tarik aku, ke mana pun arahmu, aku mau.

ㅤㅤKetika pandangan kami bersua, Kim tersenyum lebar, senyum yang sama seperti satu tahun lalu.

ㅤㅤKami bertemu ketika terlambat dan menyelinap dari jalan rahasia.

ㅤㅤKim bukan siswa biasa, dia berbeda. Kim tak bisa berada dalam keramaian. Dia lemah, dia suka mengalah, padahal tidak kalah.

ㅤㅤKim tidak punya siapa-siapa. Aku tak pernah melihat satu orang pun berbicara dengannya.

ㅤㅤMereka beranggapan kalau Kim itu aneh.

ㅤㅤKim manusia, dia sama, hanya saja ...

ㅤㅤ”Aku trauma,” ucapnya dengan nada yang bergetar.

ㅤㅤKim menangis, terisak hebat, bahkan sempat ada jeda lumayan panjang.

ㅤㅤ”Mereka menyakitiku, ada banyak pisau tertancap di punggungku. Mereka terus memaksa, dan membentak.”

ㅤㅤPerlahan ibu jariku mengusap air matanya.

ㅤㅤ”Aku takut Way ... aku takut sendirian. Aku benci sendiri....”

ㅤㅤSial, aku jadi ikut menangisi nestapanya yang belum kuketahui dengan jelas.

ㅤㅤ”Kim, saat duniamu mulai pudar dan kamu merasa hilang. Aku akan selalu menjadi sayap pelindungmu.”

ㅤㅤ”Kalau kamu takut atau tersesat, di mana pun itu. Aku janji, i'll find you.”

ㅤㅤ”Kamu punya aku. Walaupun aku belum tentu memilikimu.”

ㅤㅤTangisnya semakin keras. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi selain mendekapnya tanpa izin.


ㅤㅤ”Way,” panggilnya dengan suara serak yang hampir hilang.

ㅤㅤ”Kenapa?”

ㅤㅤ”Apakah semua yang berawal sedih, akan selalu berakhir miris?”

ㅤㅤ”Gak juga,” balasku.

ㅤㅤ”Bisakah orang sepertiku mendapatkan happy ending?”

ㅤㅤSpontan aku melirik ke arah Kim yang tengah bersandar di bahuku. Kami berdua duduk di atas pasir pantai, menunggu mentari pulang ke rumahnya.

ㅤㅤ”Apa kamu mau mencobanya?” tanyaku.

ㅤㅤ”Mencoba apa?”

ㅤㅤ”Membuat akhir yang bahagia bersamaku.”

ㅤㅤSenyum di bibirnya melebar, Kim mengangguk cepat tanpa merubah posisi. Dia tidak memandangku sama sekali.

ㅤㅤMatahari terbenam dengan cepat, samar-samar kulihat air mata mengalir di pipinya.

ㅤㅤ”Way....”

ㅤㅤ”Hm?”

ㅤㅤ”Sudah waktunya bangun.”

ㅤㅤAh ... sudah pagi, ya?

ㅤㅤ”Aku masih mau bersamamu.”

ㅤㅤKim mengangkat kepalanya, kemudian menangkup kedua pipiku menggunakan telapak tangannya.

ㅤㅤLangit yang gelap, membuyarkan setengah penglihatanku.

ㅤㅤ”Tempatmu bukan di sini ... relakan aku,” pintanya.

ㅤㅤPerlahan aku menyentuh pipinya juga, menyeka air mata yang sempat membuatku ragu.

ㅤㅤ”Maaf, karena belum berhasil.”

ㅤㅤ”Gapapa....”

Kami saling menempelkan dahi satu sama lain, sebelum diriku terbangun dari mimpi panjang.

ㅤㅤMenjalani hari yang sebenarnya. Hari-hariku tanpa kim, sebab ia sudah lebih dulu menyapa Tuhan.

“Seorang siswa berinisial “K” melompat dari lantai tertinggi gedung sekolahnya.”

“Korban diduga telah mengalami gangguan mental dan mendapatkan kekerasan fisik dari kedua orang tuanya selama bertahun-taun.”


ㅤㅤHai, Kim.

ㅤㅤSemalam aku bermimpi tentangmu. Gila, aku masih sulit menerima fakta.

ㅤㅤApa kamu ingat? Tanpa rasa takut, saat ada hal yang ingin kita lakukan, kita langsung melakukannya.

ㅤㅤTidak peduli apa kata orang lain. Kita tetap mencobanya, hanya karena terlihat menyenangkan.

ㅤㅤSaat itu kita sangat gembira. Namun sekarang kamu pergi.

ㅤㅤDaripada terluka memikirkanmu, aku mencoba tertawa sembari mengenang hari-hari yang kita habiskan bersama.

ㅤㅤApa kamu ingat? Dulu aku pernah berkata,

ㅤㅤ”Untukmu, aku bisa menunggu selamanya. Ke manapun kamu pergi, aku akan mengikutimu.”

ㅤㅤ”Jika kamu pergi ke Mars, aku akan belajar dengan giat agar bisa bekerja untuk NASA.”

ㅤㅤTetapi kalau kamu pergi menembus awan. Apa yang bisa kulakukan selain merelakan?

ㅤㅤKim.... Tolong berjanjilah padaku. Tersenyumlah, jangan terluka lagi. Berbahagialah di sana, di atas awan.

ㅤㅤKepada jenama di atas sana, ㅤㅤyang aku janjikan bahagia. ㅤㅤNamun sudah terlanjur aksa, ㅤㅤ'tuk dapat disawang mata.


ㅤㅤTernyata benar kata orang-orang. Aku sudah mencoba mengukir nama Kim di langit malam.

ㅤㅤSayangnya, dia tidak jadi milikku, melainkan milik Yang Maha Kuasa.

ㅤㅤSegelintir manusia berkata, 'Kalau kamu menulis nama pujaan hati di langit malam penuh bintang, maka dia akan menjadi milikmu.'

ㅤㅤDapatkah diri ini percaya? Siapa yang tau? Mungkin benar-benar terjadi.

ㅤㅤJenama di atas sana, ㅤㅤyang tengah menemani purnama. ㅤTerukir jelas walau tak kasat mata ㅤㅤAkankah kamu menjadi nyata?


ㅤㅤ”Aku laper, beli makan yuk?” ajakku.

ㅤㅤ”Ayo!”

ㅤㅤKami berjalan beriringan, sesekali punggung telapak tangan kami bersentuh secara tidak sengaja.

ㅤㅤAnehnya netraku terus terpaku, ingin segera meraihmu, tetapi aku malu.

ㅤㅤ”Way, awas!”

ㅤㅤSecara tiba-tiba, Kim menarik lenganku untuk menepi ke samping. Ternyata aku hampir saja menabrak tembok.

ㅤㅤ”Way?”

ㅤㅤ”Hm??”

ㅤㅤ”Lagi mikirin apa?”

ㅤㅤKamu

ㅤㅤ”E-enggak ada kok! aku laper banget, jadi gak fokus hehe!”

ㅤㅤDasar Way, pengecut.

ㅤㅤ”Oke kalau gitu, ayo cepat!” Kim kembali menarik lenganku, mengajakku sedikit berlari menuju kantin.

ㅤㅤTerus tarik aku, ke mana pun arahmu, aku mau.

ㅤㅤKetika pandangan kami bersua, Kim tersenyum lebar, senyum yang sama seperti satu tahun lalu.

ㅤㅤKami bertemu ketika terlambat dan menyelinap dari jalan rahasia.

ㅤㅤKim bukan siswa biasa, dia berbeda. Kim tak bisa berada dalam keramaian. Dia lemah, dia suka mengalah, padahal tidak kalah.

ㅤㅤKim tidak punya siapa-siapa. Aku tak pernah melihat satu orang pun berbicara dengannya.

ㅤㅤMereka beranggapan kalau Kim itu aneh.

ㅤㅤKim manusia, dia sama, hanya saja ...

ㅤㅤ”Aku trauma,” ucapnya dengan nada yang bergetar.

ㅤㅤKim menangis, terisak hebat, bahkan sempat ada jeda lumayan panjang.

ㅤㅤ”Mereka menyakitiku, ada banyak pisau tertancap di punggungku. Mereka terus memaksa, dan membentak.”

ㅤㅤPerlahan ibu jariku mengusap air matanya.

ㅤㅤ”Aku takut Way ... aku takut sendirian. Aku benci sendiri....”

ㅤㅤSial, aku jadi ikut menangisi nestapanya yang belum kuketahui dengan jelas.

ㅤㅤ”Kim, saat duniamu mulai pudar dan kamu merasa hilang. Aku akan selalu menjadi sayap pelindungmu.”

ㅤㅤ”Kalau kamu takut atau tersesat, di mana pun itu. Aku janji, i'll find you.”

ㅤㅤ”Kamu punya aku. Walaupun aku belum tentu memilikimu.”

ㅤㅤTangisnya semakin keras. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi selain mendekapnya tanpa izin.


ㅤㅤ”Way,” panggilnya dengan suara serak yang hampir hilang.

ㅤㅤ”Kenapa?”

ㅤㅤ”Apakah semua yang berawal sedih, akan selalu berakhir miris?”

ㅤㅤ”Gak juga,” balasku.

ㅤㅤ”Bisakah orang sepertiku mendapatkan happy ending?”

ㅤㅤSpontan aku melirik ke arah Kim yang tengah bersandar di bahuku. Kami berdua duduk di atas pasir pantai, menunggu mentari pulang ke rumahnya.

ㅤㅤ”Apa kamu mau mencobanya?” tanyaku.

ㅤㅤ”Mencoba apa?”

ㅤㅤ”Membuat akhir yang bahagia bersamaku.”

ㅤㅤSenyum di bibirnya melebar, Kim mengangguk cepat tanpa merubah posisi. Dia tidak memandangku sama sekali.

ㅤㅤMatahari terbenam dengan cepat, samar-samar kulihat air mata mengalir di pipinya.

ㅤㅤ”Way....”

ㅤㅤ”Hm?”

ㅤㅤ”Sudah waktunya bangun.”

ㅤㅤAh ... sudah pagi, ya?

ㅤㅤ”Aku masih mau bersamamu.”

ㅤㅤKim mengangkat kepalanya, kemudian menangkup kedua pipiku menggunakan telapak tangannya.

ㅤㅤLangit yang gelap, membuyarkan setengah penglihatanku.

ㅤㅤ”Tempatmu bukan di sini ... relakan aku,” pintanya.

ㅤㅤPerlahan aku menyentuh pipinya juga, menyeka air mata yang sempat membuatku ragu.

ㅤㅤ”Maaf, karena belum berhasil.”

ㅤㅤ”Gapapa....”

Kami saling menempelkan dahi satu sama lain, sebelum diriku terbangun dari mimpi panjang.

ㅤㅤMenjalani hari yang sebenarnya. Hari-hariku tanpa kim, sebab ia sudah lebih dulu menyapa Tuhan.

“Seorang siswa berinisial “K” melompat dari lantai tertinggi gedung sekolahnya.”

“Korban diduga telah mengalami gangguan mental dan mendapatkan kekerasan fisik dari kedua orang tuanya selama bertahun-taun.”


ㅤㅤHai, Kim.

ㅤㅤSemalam aku bermimpi tentangmu. Gila, aku masih sulit menerima fakta.

ㅤㅤApa kamu ingat? Tanpa rasa takut, saat ada hal yang ingin kita lakukan, kita langsung melakukannya.

ㅤㅤTidak peduli apa kata orang lain. Kita tetap mencobanya, hanya karena terlihat menyenangkan.

ㅤㅤSaat itu kita sangat gembira. Namun sekarang kamu pergi.

ㅤㅤDaripada terluka memikirkanmu, aku mencoba tertawa sembari mengenang hari-hari yang kita habiskan bersama.

ㅤㅤApa kamu ingat? Dulu aku pernah berkata,

ㅤㅤ”Untukmu, aku bisa menunggu selamanya. Ke manapun kamu pergi, aku akan mengikutimu.”

ㅤㅤ”Jika kamu pergi ke Mars, aku akan belajar dengan giat agar bisa bekerja untuk NASA.”

ㅤㅤTetapi kalau kamu pergi menembus awan. Apa yang bisa kulakukan selain merelakan?

ㅤㅤKim.... Tolong berjanjilah padaku. Tersenyumlah, jangan terluka lagi. Berbahagialah di sana, di atas awan.

ㅤㅤKepada jenama di atas sana, ㅤㅤyang aku janjikan bahagia. ㅤㅤNamun sudah terlanjur aksa, ㅤㅤ'tuk dapat disawang mata.


ㅤㅤTernyata benar kata orang-orang. Aku sudah mencoba mengukir nama Kim di langit malam.

ㅤㅤSayangnya, dia tidak jadi milikku, melainkan milik Yang Maha Kuasa.

ㅤㅤada yang aneh pada nabastala. ada bayang yang aku kenal sejak lama. rupa indah yang jauh dari atma.

ㅤㅤkusebut dia, romansa patah hati.

ㅤㅤyang aku harap jadi euforia. namun ternyata angan-angan saja.


ㅤㅤ”phuwin!” panggilku pada laki-laki yang berdiri di depan gerbang sekolah.

ㅤㅤphuwin tangsakyuen

ㅤㅤsudah menjadi kebiasaan bagiku, membaca name tag di baju seragamnya tiap kali bertemu.

ㅤㅤaku bukan orang yang pelupa. mana mungkin melupakan inisial yang kutulis tiap purnama?

ㅤㅤ”kak?”

ㅤㅤ”iya?”

ㅤㅤ”ingat yang aku katakan kemarin?”

ㅤㅤkepalaku segera mengangguk antusias.

ㅤㅤ”jangan lupa datang, ya?”

ㅤㅤphuwin mengundangku ke rumahnya. hari ini ulang tahunnya yang ke delapan belas.

ㅤㅤentah siapa saja yang akan datang. setauku phuwin tidak punya teman dekat selain diriku.

ㅤㅤ”oke, sampai ketemu nanti!” phuwin melambaikan tangan seraya berjalan memasuki mobil jemputan.

ㅤㅤpadahal aku menawarkan tumpangan, tapi ia enggan dan memilih pulang dengan kendaraan pribadi.

ㅤㅤsesekali aku berkhayal, menikmati senja bersama dia yang kusuka.

ㅤㅤbergandengan tangan, menautkan jari jemari, dan melepas beban masing-masing.

ㅤㅤduduk berdua di atas bukit, dengan dia bersandar di bahuku.

ㅤㅤinginku bukanlah asmaraloka penuh warna. bukan kisah cinta yang dipandang mesra.

ㅤㅤcukup kamu dan aku saja. cukup semesta yang tau kita.

ㅤㅤsayangnya, imajinasiku terlalu aksa 'tuk jadi nyata.


ㅤㅤkemeja biru dongker serta celana jeans berwarna hitam, membalut tubuhku yang tak sempurna.

ㅤㅤaku menghela napas panjang sembari menatap wajah di cermin.

ㅤㅤ”mari rampungkan kisahmu, neo,” kataku, bermonolog seorang diri.

ㅤㅤterkadang aku berpikir, dari mana semuanya dimulai?

ㅤㅤperasaanku lumayan pelik untuk diterjemahkan. ada banyak bifurkasi yang menuntun menuju jalan buntu.

ㅤㅤsedari tadi aku menggenggam setangkai bunga mawar yang akan kuberi.

ㅤㅤdi sanalah dia, tengah berbincang dengan seseorang yang tampak asing.

ㅤㅤekspektasiku salah, kami tidak hanya berdua. phuwin mengundang beberapa teman angkatannya yang tentu tidak kukenali.

ㅤㅤperlahan langkahku menghampiri, berniat mengajaknya ke luar.

ㅤㅤsenyum di bibirku masih tetap mengembang lebar. karena pikirku setelah ini aku merasa lega.

ㅤㅤpikirku aku akan baik-baik saja. pikirku semuanya dapat berjalan lancar.

ㅤㅤtetapi ketika lawan bicaranya tiba-tiba merengkuh tubuh phuwin, kedua kakiku membeku di tempat.

ㅤㅤplok plok plok

ㅤㅤsuara tepuk tangan mulai menggema. semua tamu bersorak kepada dua insan yang saling mendekap di hadapanku.

ㅤㅤkubuang jauh-jauh dugaan aneh yang semakin menjatuhkan diri.

ㅤㅤtenang saja, mungkin lelaki itu sedang memberi ucapan selamat.

ㅤㅤmungkin mereka hanya sebatas teman. dia yang dianggap teman, atau aku?

ㅤㅤgenggamanku semakin erat. darah segar mengalir dari jemari. tanpa kusadari terdapat duri pada mawarku.

ㅤㅤharusnya aku meringis, namun aku malah tersenyum miris.

ㅤㅤkini laki-laki tadi mengecup kening phuwin. mengucapkan kata 'cinta' yang dibalas sama olehnya.

ㅤㅤlantas mengapa aku masih menaruh hati, pada dia yang membuatku mati?

ㅤㅤbadanku berbalik, berjalan menjauh dengan senyum nestapa serta darah yang belum mengering.


'semalam aku menangis sembari melihat bintang. lucunya mereka mengingatkanku padamu.

aku tau harus melepasmu yang bukan untukku, sangat menyakitkan mengetahuinya.

mungkin suatu saat nanti kita bertemu. meski hanya dalam mimpiku, itu tidak apa-apa.

sekarang aku sadar, yang selama ini menjemputmu dia bukan? pond naravit? namanya terdengar cocok disandingkan denganmu.

bodohnya aku, bertahan terlalu lama pada sesuatu yang sudah kuketahui bukan milikku dari awal.

kamu tak perlu khawatir, karena aku terlalu takut untuk jatuh cinta lagi.

semoga bahagia, harsaku yang belum rampung.'

dariku yang gagal menyelesaikan prosa – neo

⠀⠀Namanya Wonpil, lahir tahun '94 di bulan April.

     Kami berteman sejak kecil, tumbuh besar menghadapi kerasnya buana yang tak adil.

     Kemanapun haluan membawa, kami selalu bersama. Meski nantinya ditimpa bencana, meski sama-sama mengantongi luka.

     Tapi... Wonpil pernah bilang, kalau itu 'gapapa.'

     Canda tawa, isak tangis, seruan emosi, kami saling membagi, saling merasa, saling mengeluh dan bertanya.

     Perihal kenapa dunia sebegitu kejamnya? Pada remaja yang belum dewasa.

     Netra cokelatku beradu dengan manik hitamnya. Tampak gagah berani padahal tengah menggandeng luka.

     “Mama pergi lebih dulu, dan kenapa aku tidak boleh ikut saja?” tanyanya lirih.

     “Kalau kamu pergi, lantas aku sama siapa?”

     Tangis yang ia tahan akhirnya tumpah juga. Daksa yang mengaku kuat akhirnya rapuh tak berdaya, bersandar dibahuku yang sama hancurnya.

     Tidak. Itu bukan kenangan terpahit kami, bukan bencana terbesar kami, bukan tamparan terkeras untuk kami.


     Pada rumitnya kehidupan, ada tiga hal yang Wonpil sukai. Mama, Yang Maha Kuasa, dan piano.

     Wonpil sering melantunkan elegi yang sukar 'tuk ku mengerti.

⠀⠀Dibarengi raga berselimut luka, ia menekan asal tuts piano dihadapannya.

     “Ajari aku,” ucapku sembari menarik kursi.

     “Biar aku menangis juga.”

     Biasanya luka itu kami bagi berdua, biasanya tangis itu dilakukan berdua.

⠀⠀Sayangnya, semenjak Wonpil kehilangan separuh semestanya... dia lebih suka menyendiri saja.

     Lantas mana bisa aku membiarkannya larut dalam kesedihan? Mana tahan melihat yang ku sayang terus rapuh secara perlahan?

     Iya. Aku menyayanginya.

     Lebih dari teman masa kecil. Lebih dari partner patah hati. Lebih dari batas yang aku miliki.

     Wonpil tidak pernah tau apa yang dimainkannya. Serta tak pernah tau, kalau diam-diam diriku menaruh asa.

     Relung hati ikut tertawa. Menertawakan luka yang berdiri dengan sendirinya.

     Aneh bukan?

     Belum ku terima penolakan, tetapi seolah sudah tertampik di garis terdepan.

     “Mari terus bersama, sampai waktu yang nanti semesta cipta.”

     Katanya waktu itu, membekas dalam kalbu. Meski aku tau, dia cuma bergurau.


     Setelan jas berwarna hitam terbalut rapih pada tubuh jenjangnya. Anak-anak rambutnya tertata dengan indah, membuat Wonpil semakin mempesona.

     Wonpil berdiri di atas sana, tersenyum ramah kala melihatku datang ditemani gaun simple putih polos.

     Perlahan langkahku berjalan mendekati altar pernikahan.

     Lalu duduk di atas kursi, di hadapan piano. Memilih lagu seorang diri, karena itu yang dia mau.

     Dulu Wonpil yang memainkannya untukku.

     Kini giliranku yang mengiringinya, —bersama seorang wanita yang tengah dipandang mesra.

     Padahal hari ini, harusnya aku turut euforia. Padahal detik ini, harusnya aku menikmati.

⠀⠀Padahal lagu ini, bukan elegi.

     “Bagus, apa judulnya?” tanya Wonpil yang menghampiri.

     “Je Te Veux, karya Erik Satie.”

     Wonpil kembali tersenyum, namun kali ini ditemani sang istri. Kali ini bukan lagi remaja labil. Kali ini dia telah sepenuhnya dewasa.

     Jemarinya meraih bahuku, menepuk pelan, seraya mengucap terima kasih telah menjadi seorang teman.

     Andai dia tau, alasan aku memilih lagu itu.

     Lukaku masihlah sama, tapi... 'gapapa.'

     Gapapa, asalkan dia gak merasakannya juga.

     “Selamat menyusun harsa.” —dan aku, akan mulai menulis nestapa.

'Kau dan aku saling membantu, membasuh hati yang pernah pilu. Mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu.'

Raga Tanpa Rahsa


September 2015

     “Aku pamit,” seulas senyum terukir pada rupa elok nan sendu.

     Jemari kasarnya mengelus lembut suraiku. Meninggalkan segelintir kenangan.

     “Kapan kita bersua kembali?” Tanyaku, bersama linangan air mata dari sudut netra.

     “Ketika dunia berkata 'sudah',”

     Kami saling menggenggam, sebelum akhirnya melepas harsa. Mengikhlaskan hati yang meronta.

     Skala terpaksa pergi, demi mimpinya. Sedangkan aku, harus rela menanggung rindu.

     Pesawat tempat Skala berada, telah mengudara mencapai nabastala. Menuju bumi bahagian selatan, dimana aku tak bisa merengkuhnya.

     Saban hari, Skala menyempatkan diri untuk menghubungi. Bertanya kabar atau bertukar humor.

     “Hari ini melelahkan,” eluhnya melalui sambungan telephone.

     “Rehat-lah sehari,”

     Skala memilih terkekeh, dan mengubah topik. Dia tidak pernah mendengar nasihatku.

     “Aku rindu,” suara serak Skala terdengar parau, terdapat kesungguhan dalam kata itu.

     “Aku pun begitu,”

     “Ingat janjiku, setelah ini akan ku bawa sebuah cincin di hadapanmu,” lanjutnya, lantas aku mengiyakan kalimat itu.

     “Aku mau melantunkan sebuah lagu untukmu,”

     Ku ambil posisi ternyamanku, menunggu Skala dengan melodi indah dari gitar dan suaranya.

“I sang a lullaby By the waterside and knew If you were here I'd sing to you You're on the other side As the skyline splits in two I'm miles away from seeing you I can see the stars From America I wonder, do you see them, too?”

     Isak tangisku pecah, seperti dirajam berkali-kali. Sedangkan Skala tertawa renyah sebelum mengucap selamat malam, sebagai akhir kata.


     Berita tentang Skala hadir di setiap lini masa. Aku menonton salah satu rekaman dirinya bernyanyi di hadapan buana. Tersenyum untuk sejuta pasang mata di luar sana.

     Saat malam tiba, Skala tetap mengabari. Lalu masa yang ku nanti datang jua. Skala hendak pulang bersua.

     “Aku segera datang,”

     Senyum kecilku terlukis tipis, meski sebenarnya aku membancang tangis.

     Hadirku tetap setia menunggunya pulang, sampai aku sadar, ternyata kata 'segera' adalah sebuah mimpi buruk.

Pesawat xxx yang membawa 60 orang dari Amerika menuju Indonesia mengalami kecelakaan, sebagian korban tengah dirawat di rumah sakit Amerika Serikat.

     Tatapanku nanar, air mata juga ikut memburai. Ditambah goresan dalam sanubari.

     Harapku kian memudar, tenggelam di dasar pikiran tanpa kesudahan.


Oktober 2015

     Kini korban kecelakaan pesawat bulan lalu, sudah dipulangkan.

     Aku mengedarkan pandangan, demi mencari Skala. Netraku pun terhenti pada daksa yang berjalan membelakangi.

     Sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya. Ketika ia berbalik, aku bernafas lega karena dugaanku benar.

     Skala terlihat baik-baik saja, tanpa luka. Tetapi mengapa nampak berbeda?

     Aku mencoba meraih lengannya, tetapi Skala menghindar. Manik hitamnya menatapku lamat-lamat, seolah tidak mengenali.

     “Skala..”

     “Kamu ini siapa?”

     “Jangan bercanda,” aku kembali mengulurkan jemariku, dan ia hempas begitu saja.

     “Aku tidak kenal kamu,” Skala kemudian pergi sembari menarik koper roda miliknya.

     Ting!

     Ponselku bergetar mendadak, menampilkan pesan yang hampir membuatku meledak.

Seorang penyanyi bernama Skala, dikabarkan mengalami amnesia setelah terbentur keras di kepala bagian belakang.

     Walaupun hatiku tersayat, aku mencoba tersenyum. Setidaknya aku sudah melihatnya. Sebab pintaku hanyalah bertemu.

     Akhirnya aku bersua dengan raganya, namun tanpa renjana yang sama.