mwouvie

a place where my heart lives

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤKita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

ㅤ”Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

ㅤ”Jalan-jalannya?”

ㅤ”Maksudku jadi orang kaya!”

ㅤ”Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

ㅤ”Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, ㅤ”Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

ㅤBifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

ㅤ”Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

ㅤ”Enggak semuanya, enggak selamanya.”

ㅤ”Can we stay a little bit longer?”

ㅤ”It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ ㅤ”Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

ㅤ”Tiba-tiba saja.”

ㅤ”Pasti ada alasannya, Satoru!”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

ㅤ”Aku ini nggak sepintar kamu.”

ㅤ”Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

ㅤ”Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

ㅤ”Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

ㅤ”Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

ㅤ”Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

ㅤ”Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

ㅤ”Kalau—–”

ㅤ”I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

ㅤ”Maaf, kukira kita bisa....”

ㅤ”Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

ㅤ”Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

ㅤ”Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

ㅤ”Hadiah perpisahan?”

ㅤ”Ubi rebus, janjiku dulu. Always keep yourself warm.”

Karena sudah tak ada lenganku yang bebas memelukmu sepanjang malam. Karena bagimu dingin sudah bukan apa-apa. Benar 'kan, Suguru?

Suguru menerima pemberianku, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

ㅤ”Thanks!”

ㅤ”Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤKita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

ㅤ”Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

ㅤ”Jalan-jalannya?”

ㅤ”Maksudku jadi orang kaya!”

ㅤ”Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

ㅤ”Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, ㅤ”Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

ㅤBifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

ㅤ”Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

ㅤ”Enggak semuanya, enggak selamanya.”

ㅤ”Can we stay a little bit longer?”

ㅤ”It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ ㅤ”Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

ㅤ”Tiba-tiba saja.”

ㅤ”Pasti ada alasannya, Satoru!”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

ㅤ”Aku ini nggak sepintar kamu.”

ㅤ”Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

ㅤ”Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

ㅤ”Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

ㅤ”Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

ㅤ”Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

ㅤ”Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

ㅤ”Kalau—–”

ㅤ”I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

ㅤ”Maaf, kukira kita bisa....”

ㅤ”Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

ㅤ”Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

ㅤ”Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

ㅤ”Hadiah perpisahan?”

ㅤ”Ubi rebus, janjiku dulu. Always keep yourself warm.”

Karena sudah tak ada lenganku yang bebas memelukmu sepanjang malam. Karena bagimu dingin sudah bukan apa-apa. Benar 'kan, Suguru?

Suguru menerima pemberianku, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

ㅤ”Thanks!”

ㅤ”Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤKita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

ㅤ”Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

ㅤ”Jalan-jalannya?”

ㅤ”Maksudku jadi orang kaya!”

ㅤ”Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

ㅤ”Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, ㅤ”Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

ㅤBifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

ㅤ”Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

ㅤ”Enggak semuanya, enggak selamanya.”

ㅤ”Can we stay a little bit longer?”

ㅤ”It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ ㅤ”Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

ㅤ”Tiba-tiba saja.”

ㅤ”Pasti ada alasannya, Satoru!”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

ㅤ”Aku ini nggak sepintar kamu.”

ㅤ”Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

ㅤ”Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

ㅤ”Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

ㅤ”Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

ㅤ”Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

ㅤ”Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

ㅤ”Kalau—–”

ㅤ”I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

ㅤ”Maaf, kukira kita bisa....”

ㅤ”Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

ㅤ”Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

ㅤ”Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

ㅤ”Hadiah perpisahan?”

ㅤ”Ubi rebus, janjiku dulu. Jangan lupa always keep yourself warm.”

Karena sudah tak ada lenganku yang bebas memelukmu sepanjang malam. Karena bagimu dingin sudah bukan apa-apa. Benar 'kan, Suguru?

Suguru menerima pemberianku, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

ㅤ”Thanks!”

ㅤ”Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤKita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

ㅤ”Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

ㅤ”Jalan-jalannya?”

ㅤ”Maksudku jadi orang kaya!”

ㅤ”Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

ㅤ”Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, ㅤ”Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

ㅤBifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

ㅤ”Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

ㅤ”Enggak semuanya, enggak selamanya.”

ㅤ”Can we stay a little bit longer?”

ㅤ”It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ ㅤ”Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

ㅤ”Tiba-tiba saja.”

ㅤ”Pasti ada alasannya, Satoru!”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

ㅤ”Aku ini nggak sepintar kamu.”

ㅤ”Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

ㅤ”Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

ㅤ”Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

ㅤ”Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

ㅤ”Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

ㅤ”Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

ㅤ”Kalau—–”

ㅤ”I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

ㅤ”Maaf, kukira kita bisa....”

ㅤ”Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

ㅤ”Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

ㅤ”Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

ㅤ”Hadiah perpisahan?”

ㅤ”Ubi rebus, janjiku dulu.”

Suguru menerima, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

ㅤ”Thanks!”

ㅤ”Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤㅤKita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

ㅤㅤ”Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

ㅤㅤ”Jalan-jalannya?”

ㅤㅤ”Maksudku jadi orang kaya!”

ㅤㅤ”Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

ㅤㅤ”Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, “Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

Bifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

“Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

“Enggak semuanya, enggak selamanya.”

“Can we stay a little bit longer?”

“It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.

... ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

“Tiba-tiba saja.”

“Pasti ada alasannya, Satoru.”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

“Aku ini nggak sepintar kamu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

“Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

“Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

“Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

“Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

“Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

“Kalau—–”

“I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

“Maaf, kukira kita bisa....”

“Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

“Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

“Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

“Hadiah perpisahan?”

“Ubi rebus, janjiku dulu.”

Suguru menerima, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

“Thanks!”

“Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ Kita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

“Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

“Jalan-jalannya?”

“Maksudku jadi orang kaya!”

“Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

“Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, “Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

Bifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

“Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

“Enggak semuanya, enggak selamanya.”

“Can we stay a little bit longer?”

“It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.

... ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

“Tiba-tiba saja.”

“Pasti ada alasannya, Satoru.”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

“Aku ini nggak sepintar kamu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

“Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

“Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

“Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

“Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

“Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

“Kalau—–”

“I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

“Maaf, kukira kita bisa....”

“Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

“Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

“Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

“Hadiah perpisahan?”

“Ubi rebus, janjiku dulu.”

Suguru menerima, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

“Thanks!”

“Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.

... ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.

...

Kita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

“Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

“Jalan-jalannya?”

“Maksudku jadi orang kaya!”

“Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

“Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, “Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.

...

Bifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

“Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

“Enggak semuanya, enggak selamanya.”

“Can we stay a little bit longer?”

“It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.

...

“Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

“Tiba-tiba saja.”

“Pasti ada alasannya, Satoru.”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

“Aku ini nggak sepintar kamu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

“Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

“Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

“Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

“Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

“Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

“Kalau—–”

“I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

“Maaf, kukira kita bisa....”

“Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

“Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

“Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

“Hadiah perpisahan?”

“Ubi rebus, janjiku dulu.”

Suguru menerima, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

“Thanks!”

“Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.

...

“Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

#Astronomy

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.

...

Kita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

“Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

“Jalan-jalannya?”

“Maksudku jadi orang kaya!”

“Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

“Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, “Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.

...

Bifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

“Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

“Enggak semuanya, enggak selamanya.”

“Can we stay a little bit longer?”

“It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.

...

“Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

“Tiba-tiba saja.”

“Pasti ada alasannya, Satoru.”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

“Aku ini nggak sepintar kamu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

“Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

“Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

“Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

“Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

“Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

“Kalau—–”

“I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

“Maaf, kukira kita bisa....”

“Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

“Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

“Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

“Hadiah perpisahan?”

“Ubi rebus, janjiku dulu.”

Suguru menerima, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

“Thanks!”

“Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.

...

“Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”

tags : angst, kissing, insecurity

Kita pasti punya satu jenama yang amat disuka. Satu inisial bagai prosa asmaraloka. Satu jenama yang ingatkan bahagia.

Ditulis dari sudut pandang Inui Seishu, dibalut rindu, ditemani sarayu.


3 Desember

“Seyi!”

Segera kutolehkan kepala, menyawang sosok ceria berlarian membawa tas senada. Senyum lebar terpatri, surai hitamnya naik turun mengikuti iringan langkah.

“Koko? Tumben main ke rumah.”

Sesampainya sepuluh senti, ia mengatur pernapasan. Disodorkan barang bawaan padaku, terdapat sweater berwarna biru.

“Buat gue?”

“Yups! Warnanya adem, kayak lo.”

Gelak tawa spontan muncul, maklumi diriku yang humornya rendahan.

“Thanks!”

“Coba pakai, gue mau liat!”

Aneh, dia tidak pernah se-tergesa ini.

Jemariku menarik pergelangan kurusnya menuju kamar. Mana mungkin berganti pakaian di depan tetangga yang tengah bakar ikan.

“Tutup mata!” seruku dengan semburat merah muncul di kedua pipi sialan.

“Kita sering mandi bareng pas kecil. Gue udah liat keseluruhan badan lo.” Itu benar, benar-benar membuatku malu!

Segila apa aku, bertelanjang dada di depan yang kusuka sejak lama?!

“Buruan, jangan ngintip!”

“Iya-iya.” Sesuai titah, dipejamkan kedua netra. Menampilkan bulu matanya yang jatuh tenang. Sial, Tuhan memang tidak main-main saat menciptakan dia.

Wangi semerbak yang tidak bisa dideskripsikan menguar ketika plastiknya terbuka.

Setelah terpasang sempurna, aku berkaca. Sesekali berputar, melihat betapa elok diriku dalam balutan sweater lembut itu. Meski ukurannya terlalu besar sebab celana boxerku kini tertutupi.

“Cantik.” Demi Tuhan, sekujur badan bergetar hebat, merinding dengar rapsodinya. Aku ini sudah cukup gila karenamu, Koko. Kumohon jangan ditambah-tambah lagi.

“Gue belum suruh buka?!”

“Kelamaan, mata gue pegel!”

“Kayak nggak pernah tidur aja!”


Tok... Tok... Tok...

Disela keributan, pintu kamar terketuk dari luar, diikuti suara panggilan.

“Seishu? Bicara sama siapa?”

“Koko,” jawabku yang kemudian membukakan pintu.

“Ada Koko? Kakak enggak tau.” Kak Akane melirik ke arah Koko yang duduk manis di atas ranjang. Melempar senyum seteduh lembayung sore.

Siapa saja bisa terpikat, termasuk Koko. Lihat bagaimana pipinya ikut kemerahan disenyumi begitu.

“Ada camilan, mau diambilin?”

“Enggak usah, biar a—–”

“Aku yang ambil, kak.” Koko segera memotong kalimatku, bergegas pergi mengikuti Kak Akane menuju dapur. Meninggalkan yang berbaju biru mematung sendiri di depan pintu.


“Kak Akane cantik, ya?” tanyanya seraya melahap keripik singkong.

“Iya.”

“Sudah cantik, pinter pula.”

“Iya.”

Dibanding dia, aku bukan apa-apa. Tidak berguna, tidak bernilai, sering dicap mirip, meski terasa tak pantas. Kak Akane adalah segalanya yang bukan aku.

Mana bisa rongsokan samai primadona.

“Kalian mirip.”

Aku enggan menoleh maupun membalas, fokus mematahkan keripik menjadi beberapa bagian.

Sayangnya terpecah kala jari lentik Koko mengangkat daguku, memaksa untuk menatapnya.

Jika cukup jeli, akan ditemui air mata tertahan di dalam sana. Tapi aku ragu dia tau.

“Sama-sama cantik.”

Sepersekon setelahnya, bibir kami bersua. Yang selama ini kutahan tumpah jua. Mengalir tanpa mengenai kulitnya.

Hangat, tidak panas dan ganas seperti film romansa dewasa. Namun sukses buatku terbang ke angkasa.

Koko lantas melepas, buka mata dan kaget melihatku menangis. Ia usap dengan ibu jari tanpa panik. Jadi, bisakah aku anggap kecupannya sengaja?

“Kak Akane....”

Lucu ya, belum berperang sudah tertampik duluan. Ingin hilang dari buana, lepas ekspektasi yang tak sejalan.

“Aku Seishu.”

Pupilnya membesar, layaknya telah sadar. Koko hendak beri penjelasan, tapi gagal.

“Koko, Seishu, makan dulu!” Kak Akane kembali memanggil, waktunya makan malam.

“Seyi, gue—–”

“Ayo,” ajakku lirih sembari berjalan lebih dulu.

Toh, dia hanya akan berkata maaf.


Koko memilih duduk di samping Kak Akane, berhadapan denganku yang masih menunduk. Mereka mengobrol tanpa kenal suasana, seakan berdua saja, aku tidak ada.

Kendati tidak terlalu perhatikan, ekor mataku dapat menangkap lengan kiri Koko diam-diam melingkar di pundak Kak Akane.

Buatku makin nanar, meremat sendok erat-erat sampai tinggalkan bekas kemerahan.

Tapi bagaimana aku membencinya? Semua orang suka bintang, aku pun sama. Kak Akane bagai malaikat, suci tanpa lakukan kesalahan.

Tapi sekali lagi, aku harap dia tidak pernah ada.

“Seishu, habis ini kakak mau keluar.”

“Aku antar ya, kak?” Koko yang jawab, bukan aku. Dia tidak pernah lambat merespon belahan jiwa.

“Dijemput temen, kok! Kamu temani Seishu saja.”

Temani hidupku apa bisa?

“Siap! Kakak enggak ada baju yang lebih tebal? Di luar dingin banget, loh?”

Telapak tanganku juga dingin, Ko.

“Enggak ada, kotor semua. Gapapa, cuma sebentar.”

Koko melepas hoodie, memberikannya pada Kak Akane, menyisakan kaos oblong berwarna putih.

“Nih, kak. Aku nggak mau kakak sakit.”

Aku juga sakit karenamu, pernahkah kamu peduli?

Aku lekas berdiri, menghentakkan kedua telapak tangan di atas meja. Lumayan keras sampai Kak Akane melempar tatap khawatir.

“Sudah kenyang.” Kubawa pergi tungkai lemah yang hampir pasrah. Langkah lain terdengar mengikuti dari belakang. Pasti Koko.

“Seyi?!” serunya menahan lengan secara kasar. Kenapa dia seolah kesal?

“Lo kenapa?”

“Elo yang kenapa?!” balasku sedikit menaikkan nada bicara.

Alis Koko menukik, menaruh rupa bingung minta penjelasan. Padahal seharusnya dia tau. Harusnya dia mengerti.

“Kenapa nyium gue? I'm not even half as pretty. Perbedaannya kentara!” Harusnya dia bisa membedakan.

Tolong bilang sengaja. Yakinkan aku sekali saja. Berpura-pura, ya?

Bibir itu punyaku, yang singgah di benaknya malah orang lain. Dia buatmu terpesona, sedang aku mati dimakan realita.

“Maaf, Seyi. Lo tau sendiri gue suka siapa.”

Pintanya selalu Kak Akane. Tidak ada aku dalam ceritanya. Kadang benci menaruh hati, namun tak mampu cari pengganti.

Layaknya nabastala dan bentala, kita dua daksa tanpa izin semesta untuk bersama.

Mungkin sebatas teman saja. Yang hadir beri pundak, tampung keluhnya tentang tambatan hati. Sembari berandai jadi yang dicintai.

“Makasih sweaternya.”

Tiga Desember, tempatku mengubur duka. Baladanya berakhir tanpa harsa. Dari awal juga terbaca, dia tak rasakan renjana.

tags : angst, mentions death, death, harsh words, bullying, seniority, suicide attempt.

Rinai hujan menyapu darah segar di kedua sisi bibirnya. Menciptakan genangan merah di atas kaki berpijak. Tidak ada yang tau apakah benar air hujan, atau air mata?

Ketiganya berpadu tak karuan, sama seperti kondisinya. Baju seragam yang semula putih bersih, jadi sedikit menghitam.

Celana biru keabuan itu, terkoyak pada bagian lutut. Sepasang mata berlalu lalang, hanya dapat menyawang. Kenapa berdiri di tengah-tengah hujan?

Dia juga melayangkan tanya. Seharusnya ikut meneduh, seharusnya tidak mengotori seragam, seharusnya—-

Seharusnya mati saja.

Goresan baru terasa perih, bukan polesannya. Para senior gila senioritas yang mengukir. Bentuk pelajaran sebab beberapa jam yang lalu, ia meninju kawanan mereka.

Dia muak, Sanzu Haruchiyo, enggan terbelenggu di bawah kendali orang lain.

Sudah cukup dua tahun mengabdi sebagai pesuruh patuh. Eksistensi Sanzu bak seekor anjing. Menuruti majikan merupakan tugas utama.

Sanzu lupa bagaimana bisa berakhir begini. Lupa kenapa mau menelan pil pahit setiap hari. Yang Sanzu ingat, dirinya tidak berguna, dan mati adalah agenda.

Sanzu tidak punya siapapun untuk dijaga, tidak akan ada yang menangisi kepergiannya. Bukankah bagus jika aku tiada?

Agar penderitaan segera berakhir. Agar rantai di lehernya terputus. Siapa sih, yang nggak mau bahagia? Manusia pendosa seperti Sanzu, juga berkhayal mencecap manisnya hidup.

Pintanya cuma ditemani. Entah daksa, maupun harsa, yang penting berdua. Namun sekali lagi, semua hanya angan yang aksa untuk digapai jemari kotornya.

“Nggak takut masuk angin?”

Satu kalimat dingin menusuk pendengaran. Belum ada yang memecah fokusnya, sampai pria bersurai dua warna mulai angkat suara.

“Nih, pegang.” Sebuah payung disodorkan sepihak.

Sanzu membeku, menyawang kosong yang asing di hadapannya. Selagi diam, lawan bicara meraih telapak tangannya. Menyelipkan gagang hitam di sela jemari yang terluka.

“Jari lo, gapapa?”

“Siapa?” Bukannya menjawab, Sanzu balik bertanya.

“Jari lo.”

“Bukan, lo siapa?”

Ia mendecak sebal, tidak habis pikir ditanyai pada waktu yang tak tepat.

“Neduh dulu,” ajaknya, menarik pergelangan tangan Sanzu menuju gazebo kecil di dekat halte.


Kantong plastik berisi plester dan obat-obatan, dibuka lebar. Sanzu heran, memperhatikan timing aneh yang seakan direncanakan.

Pelan-pelan surai dua warna menyeka darahnya. Sesekali yang diobati meringis, untung saja tidak berontak.

“Gue merhatiin lo sejak tadi. Sejak senior-senior brengsek mulai narik kerah baju lo.”

Iris zamrudnya sedikit terbelalak, cukup kaget, tetapi memaklumi. Meski ada rasa kecewa seperti, “kenapa kamu tidak menolongku?”

“Mau sampai kapan, sih?”

Sanzu tak berkutik, sedang yang satunya mengoceh tanpa henti. Melanturkan kalimat yang susah 'tuk dimengerti.

“Bisa berhenti?”

Gerakannya terhenti, kini manik mata mulai berkaca. Sanzu panik, berpikir kalau itu salahnya.

“Berhenti?” Satu pertanyaan lolos dari lisan, ternyata benaknya tak mampu menampung teka-teki.

“Nyakitin diri lo sendiri.”

Ada perasaan aneh yang berkata, kalau pria ini tidak baru saja ditemui. Seakan sudah mengenal lama. Sudah memperhatikan lika-liku hidupnya.

“Gue capek liat lo diperlakuin kayak binatang.” Isak tangis pecah, yang bersurai merah muda dibuat bingung.

Sedikit kaku dan ragu, telapak tangan tergerak menepuk bahu yang bergetar. Sampai alam bawah sadar tersambar, barulah diingat siapa yang diajak bicara.

Haitani Rindou. Seseorang yang selalu memberinya atensi lebih. Ah, tidak. Ketua kelas, wajar peduli ke semua orang. Bukankah begitu tugasnya?

Sanzu pernah merasa spesial, sesaat sebelum dilihat Rindou juga mengelus bahu yang lain.

Lambat laun mulai dilupakan si pemberi atensi. Sanzu jarang masuk kelas. Sekalipun hadir, tidak diedarkan pandangan ke sekitar. Datang, kerjakan, dan lupakan, ialah mottonya.

Belakangan Rindou juga sibuk. Mengurus olimpiade, lomba, dan urusan siswa pintar lainnya.

“Rindou?”

“Sudah ingat?”

Sanzu mengangguk kecil, selang beberapa detik, tinjuan menghantam pundaknya yang nyeri. Tidak berani mengaduh, biar Rindou pikir dirinya sekuat Iron man.

“Lo ngidap amnesia?”

“Enggak?”

“Habisnya lo ngelupain gue secepat itu?!”

Gue enggak bermaksud, tapi ya ... sudahlah.

“Sakit?” tanya Rindou sambil mengoleskan obat merah.

“Perih sedikit.”

“Maaf, Zu. Gue lemah,”

“Semua manusia juga lemah.” Lo pikir gue kuat?

“Gue paling lemah. Bego banget, harusnya gue ngelindungin lo. Tapi malah kabur kayak kucing ketakutan!”

“Memang kayak kucing.” Maniknya menatap lurus pada kecubung sayu milik Rindou. Tidak ke mana-mana, dari tadi berhenti di sana.

“Haha, kucing cupu, ya?”

“Kucing lucu.”

Menyadari Sanzu tersenyum tipis kala netra mereka bersua, menciptakan semburat merah pada pipinya.

Sialan! Rindou lekas menarik mundur bokong, setelah menempelkan plester. Takut kalau degup jantung terdengar yang di sebelah.

“Aneh!”

“Iya, aneh. Kenapa lo lucu banget?” Sanzu memiringkan kepala, merasa gemas dengan ekspresi malu-malunya.

“Bisa stop berbohong? Gue nggak butuh dihibur?”

Dari caranya mengurus luka, Sanzu jatuh cinta. Dia gila, Rindou-nya di depan mata. Sesingkat itu, hati dirampok paksa. Jatuh pada obsidian ungu Haitani Rindou. Semakin diselami, semakin tak bisa kembali.

Apa dia pantas? Menjadi satu dari berjuta insan yang menaruh hati pada sang malaikat tanpa sayap.

“Kenapa senyum-senyum terus?!”

“Karena gue lagi menikmati indahnya ciptaan Tuhan?”

“Konyol!” Keduanya terkekeh renyah, bagai potret remaja tengah bercumbu mesra.

Monolog pendek mereka, tidak punya topik utama. Namun mampu membunuh nestapa yang keduanya rasa. Sanzu lupa, bilurnya belum kering. Rindou lupa, tengah menangisi nasib yang diobati. Monolog pendek mereka, membuat lupa kalau hujan telah sepenuhnya berhenti.

“Mau gue antar pulang?” tawar Sanzu sembari meraih kunci motor dari saku celana.

“Masih punya tenaga?”

“Thanks to your laugh, bensin gue terisi penuh.” Rindou tersenyum, sebenarnya capek, hati diporak-porandakan tanpa henti.

“Rumah lo masih sama?” tanyanya, menuntun Rindou menuju tempat memarkir motor.

“Gue mau tinggal di mana lagi kalau enggak di situ?”

“Hati gue, mungkin?”

“Ngayal!” Demi Tuhan, Rindou ingin memukul pemilik surai merah muda itu.

Melihatnya kesusahan memasang pengait helm, membuat Sanzu tertawa. Dibantunya si kucing kecil yang pipinya masih kemerahan, seperti bayi baru lahir.

“Ruang hati gue masih luas, mau dibuat bangun rumah juga bisa. Rumah tangga kita misalnya.”

“Mending gue naik ojol!” seru Rindou mulai muak.

“Gue part-time jadi ojol.”

“Sejak kapan?”

“Hari ini, buat lo seorang.”

Kalau saja Sanzu tidak sakit, mungkin helm di kepala Rindou sudah dilemparkan ke wajahnya. Lagi-lagi Rindou takut. Perubahan Sanzu terlampau drastis. Dari daksa tanpa atma, menjadi daksa kelebihan jiwa.

Motor Sanzu melesat pergi, melewati jalan sepi, menuju rumah tambatan hati. Belum ada yang mengusung topik baru. Bungkam, asyik menikmati angin yang menerpa dua relung hampa.

Sanzu berantakan, sosok pandemonium yang tidak pernah tertata dalam raknya. Tanpa tujuan hidup, selalu meredup.

Sedang Rindou bertabur sinar. Sosoknya membias dalam imaji. Kalaupun dirasa dapat tergapai, itu cuma perasaan Sanzu saja. Rindou jelas punya masa depan. Jelas ke mana arahnya menuju bahagia.

Perlahan pelukan di perut Sanzu semakin mengerat. “Jangan pergi lagi,” bisik Rindou lirih, ditenggelamkan wajah mungilnya pada punggung lebar Sanzu. Menghirup ambu vanilla yang bercampur debu.

Sanzu sadar dia itu siapa, yang tidak mungkin sejajar dengannya. Malaikat tidak pantas disandingkan dengan pendosa.

“Rin, boleh gue jatuh cinta?”

Kini ada rasa hangat dari nada bicaranya. Terdengar parau, minta dikasihani.

“Kalau ada sedikit tempat buat gue singgahi, janji, nggak akan pernah gue sakiti.”

Tepat ketika lampu berwarna merah, Sanzu menoleh. Mendapati paras elok Rindou yang kaget dipandangi begitu dekat.

“Nanti kalau lampu hijau gimana?” Rindou membuang muka, tak mau ketahuan sedang tersipu.

“Hubungan kita bisa lampu hijau juga?”

“Hah?”

Belum sempat menjelaskan, rambu lalu lintas berubah warna. Mau tak mau, fokusnya kembali ke jalan raya.

“Rasanya cinta itu, bagaimana?”

Rindou terdiam, memikirkan deskripsi yang tepat untuk dijabarkan.

“Manis?” jawabnya ragu, dia sendiri belum berpengalaman dalam asmaraloka.

“Menurut gue, bittersweet.” Sanzu terlalu cinta, sampai pahit yang dirasa.

Bukan salah Rindou, melainkan dia yang tak mampu menyamakan buana. Mereka terlampau berbeda, bertolak belakang, mustahil ditakdirkan bersama.


Motor matic merahnya berhenti di depan pagar hitam yang menjulang tinggi. Bangunan bergaya kuno, jauh dari cengkraman tetangga. Yang dibonceng segera turun dipenuhi ekspresi khawatir. Sepanjang perjalanan, dia tidak mengerti perkataan Sanzu yang rancu.

“Kenapa?”

“Gue? Gapapa?” Bohong. Rindou benci air muka Sanzu yang dipaksa bahagia.

“Can't you tell you're in love with me?” Rindou terlalu tergesa, lelah bermain kata. Kalau cinta, ya katakan saja. Begitu maunya.

“If yes, then can you let me go?”

“Maksud lo?”

Dilepasnya plester yang Rindou pasang dengan penuh kasih. Dua lukanya terpampang jelas, tidak lagi berdarah, hanya meninggalkan bekas susah terhapus.

“Gue cuma orang bodoh yang sok berani main cinta. Ke kamu pula.”

“Terus kenapa? Kenapa kalau ke aku?”

Ada rasa kesal mengetahui Rindou tidak lihat sekat di antara mereka. Sekat yang dipikir bisa dilalui dengan bertelanjang kaki.

“Zu, I feel the same way. Euforia ada waktu aku di dekatmu. Is that how love feels like?”

“Aku yang kacau ini, enggak pantas buat kamu.”

“Kalau gitu, biar aku yang menata kacaumu.” Mana bisa. Sanzu terlalu rapuh untuk ditata.

Cantik, pikirnya kala melihat surai dua warna acak-acakan ditiup angin malam. Jika Sanzu seorang pujangga, maka Rindou puisi yang selalu ingin dia tulis.

“Sekarang maumu apa?” Rindou menegaskan tanya. Masih enggan bermain kata.

“Pulang? Sudah malam.” Sedangkan Sanzu cuma mau pindah topik.

“I'm falling for you, Sanzu Haruchiyo.”

“But I'm falling to hell.” Dengan lembut diselipkannya anak rambut berwarna terang ke balik daun telinga, agar parasnya dapat diingat lamat-lamat.

“Sanzu....”


TIIIN TIIIN

Bising suara klakson sepeda motor memenuhi gendang telinga. Tidak hanya satu, melainkan puluhan. Para pengendara berjaket kulit hitam, dengan rupa garang menatap tajam ke arah yang dipanggil.

“Lo yang mukul temen gue?”

“Iya dia, bos. Budak belagu sok jadi pahlawan!”

“Padahal kita cuma main-main sama yang blonde di belakangnya.”

Merasa ketakutan setengah mati, Rindou meremat ujung seragam yang sudah tak karuan kondisinya.

Beberapa jam lalu, Sanzu melindungi Rindou dari makhluk bajingan yang berencana melecehkannya. Sanzu diminta membawa Rindou ke aula sekolah, tapi menolak dan berakhir baku hantam singkat. Sanzu menang, meski mereka berhasil menorehkan mahakarya.

Dia boleh terluka, boleh jadi manusia paling haram di dunia. Asal Rindou tidak kena, asal yang disayang baik-baik saja.

Tentang kenapa sempat tidak mengenali, merupakan suatu kebiasaan. Saat dirinya sara bara, Sanzu mudah hilang akal.

“Sikat, enggak?”

“Habisin aja bos, mumpung sepi!”

Bulan ini Rindou tinggal sendiri, sehingga tidak ada yang dapat menolong. Niatnya hendak mengeluarkan ponsel untuk memanggil pihak berwenang, ditahan.

“Mundur, Rin.”

“Sanzu, biar gue—–” belum selesai Rindou bicara, Sanzu mengulas senyum paksa.

“Biar gue yang urus.”

Jangan mati. Batin Rindou dalam hati, jarinya tak mau melepas pergi, namun sang empunya tak menaruh peduli.

“Nothing's gonna hurt you, Rindou. As long as you're with me, you'll be just fine. I promise,” ucap Sanzu terakhir kali, sebelum mengotori telapak tangannya. Sebelum suara sirine datang, membawa pergi pandemonium dengan kedua tangan diborgol besi.

Dalam pertarungan malam itu, Sanzu membunuh satu manusia yang hampir menyentuh semestanya.


“Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday Sanzu, happy birthday to you.” Rindou bernyanyi riang, sembari meniup lilin di atas kue. Mewakili yang bertambah umur karena tidak dapat melakukannya.

“Semangat banget?”

“Ini hari ulang tahun lo, harus semangat, dong?”

“Yailah gemes amat.”

Rindou tertawa kecil, kendati hatinya menjerit.

“Buat permohonan!”

“Mau makan MCD.”

“Ulang tahun setahun sekali, wish lo cuma makan MCD?!” Rindou memijat pelipisnya, dia masih sulit membaca jalan pikir Sanzu.

“Makan MCD bareng lo.” Senyum teduh terukir di sana, bekas luka yang terlihat seperti lukisan, membuat Rindou jatuh semakin dalam.

“Kalau gitu, tetap sehat sampai bebas. Gue janji, bakal ngajak lo ke MCD.”

“It's a date?” tanya Sanzu, yang dibalas anggukan malu.

Hubungan mereka masih abu, Sanzu belum memberi kepastian. Atau sudah? Hanya saja Rindou buta dalam menafsirkan frasa.

“Makasih kuenya.”

Makasih juga, telah bertahan hidup. “Sama-sama.”

Dari dulu Rindou tau, rencana bunuh diri Sanzu. Tau sudah berapa kali percobaan overdosis, atau lompat dari gedung lantai dua. Mungkin Sanzu tidak ingat, bahwa Rindou hadir untuk menggagalkan setiap niat buruknya.

Dari segala hal, Rindou belum tau bagaimana cara Sanzu melihatnya. Semenjak atensi pertama kali diberi, dia sudah lebih dulu merasakan cinta.

Atensi yang Sanzu kira formalitas dan tugas utama, sebenarnya afeksi yang diam-diam diberi hanya untuknya.

Kalau nanti keduanya bersua diluar jeruji besi, Rindou mau memeluk raga itu sampai keesokan hari. Semoga Tuhan memberinya umur panjang.

Semoga tidak ada puncak komedi yang menjatuhkan ekspektasinya.


“Akhirnya kita bebas!” seru pria dengan tato harimau di tengkuknya.

Sudah sepuluh tahun, ia mendekam di dalam. Penjara tidak seburuk yang diduga, beruntung Sanzu ada di lapas orang-orang ber-etika.

“Gue masih bingung, jelas itu pembelaan diri. Lo berusaha ngelindungin orang lain, tapi mengaku sengaja membunuh?”

“Sayangnya gak ada saksi. Orang yang lo selametin, kabur gitu aja? Enggak adil!” sambungnya berseru kecewa.

“Gue yang suruh.”

“Lo gila?!”

Sehari sebelum persidangan, Sanzu meminta Rindou tidak datang. Tentu, ditolak mentah-mentah. Mereka sama-sama berusaha melindungi, meski berakhir menyakiti.

Sanzu menghubungi guru olahraga, satu-satunya guru yang dipercaya. Memohon agar Rindou diberi tugas olimpiade, dipindahkan keluar kota, atau apapun, sehingga terlalu sibuk untuk memberi kesaksian.

Membunuh itu salah. Dirinya bukan Tuhan yang dapat seenaknya mencabut nyawa. Niatnya memang sengaja, antara dendam atau pembelaan diri, dia tidak peduli. Kalau sudah membunuh, maka harus ada hukuman yang ditempuh.

Pikirnya memberi jarak dari Rindou, merupakan keputusan yang baik. Ia enggan hidup belahan jiwanya ikut kacau balau.

“Mau gue antar pulang?” tawar si Tato harimau seraya menyodorkan helm.

“Gue ada janji,” balas Sanzu, segera menaiki bis, melesat pergi menuju tempat yang keduanya rencanakan dulu.

Seporsi ayam dan nasi hangat mengepulkan berjuta rasa gurih di indera penciuman. Sanzu belum menyentuh sejak lima menit hidangan tiba. Sibuk memperhatikan jarum jam, menunggu yang tak kunjung datang.

“Sudah telat,” ucapnya bermonolog seorang diri. Lantas tungkainya dibawa pergi, ada tempat lain yang menanti.


Diusapnya nisan penuh lumut hijau. Nampaknya tidak ada yang membersihkan. Sebuket bunga mawar merah turut dibawa untuk menemani makam.

“Aku terlambat, ya?” Bahunya naik turun, tangis memburai tanpa aba-aba. Membaca inisial yang lama tak ditemui, terukir jelas di sana.

“Bunda...,” panggil Sanzu bergetar hebat, menyadari kegagalannya sebagai anak.

Walaupun tanpa kenangan, beliau itu bunda Sanzu. Yang bersusah payah membelikan susu sambil menyumpah serapah. Bunda tidak pernah mengucap bangga, menyuruh mati adalah kalimat yang sering diterima.

Tetap dihargai tiap jerih payah yang bundanya beri. Sanzu utang budi, belum sempat membalas, beliau sudah pergi. Ada surat yang pernah dikirim sebelum napas terakhirnya, “tetap hidup,” katanya.

“Sanzu hidup, bun. Tapi, kok .... bunda tidur?”

Drrtt Drrrtt

Merasakan ponselnya bergetar, Sanzu menyeka air mata menggunakan lengan baju.

“Maaf bunda, Sanzu mampir sebentar. Lain waktu, aku janji datang lagi.”


Hiruk pikuk khalayak ramai memenuhi bandara. Memikirkan urusan masing-masing, enggan lihat ke samping. Dari ratusan bahkan ribuan jiwa, yang dicari cuma satu. Haitani Rindou.

Bodoh! Sanzu mengumpati kelalaiannya dalam menyimpan nomor. Pantas ketika diketik, jenama favoritnya tidak muncul.

Ayo berpikir positif! Sanzu juga manusia yang benaknya dipenuhi dugaan negatif. Kulit kering di sisi kuku jari tangannya dikupasi sampai berdarah.

Terdengar langkah tergesa berlarian ke arahnya. Surai ungu sepanjang bahu tengah membungkuk, mengatur pernapasan.

Siapa?

Tadinya Sanzu hendak pindah, tetapi saat dengar suara yang familiar, geraknya terhenti.

“Sorry, tadi pesawatnya delay.”

Yang berbicara mendongak, menarik ujung bibirnya ke atas. Manik sayu itu masih sama. Masih membuatnya jatuh cinta.

“Hai!”

“Halo, Rindou.”

Tidak butuh waktu lama untuk membawa Rindou ke dalam peluknya. Perbedaan tinggi mereka, membuat Sanzu dapat mengubur rupa pada perpotongan leher Rindou.

Terlalu erat, cara Sanzu mendekapnya.

“Kangen gue, ya?”

Sanzu terkekeh, dilepasnya pelukan canggung mereka. Salah satu alis Rindou terangkat, nampaknya ia kecewa.

Sedetik kemudian, Rindou merasa bibirnya berat. Yang tadinya kering, kini mulai basah ditimpa yang tercinta. Sanzu selalu jadi yang pertama. Pencuri hati, dan kecupan Haitani muda.

Rindou mau Sanzu jadi yang terakhir. Cuma Sanzu yang boleh, cuma Sanzu yang bisa.

Mereka sama-sama baru, dalam hubungan yang pelik. Keduanya mau coba. Coba luka yang pahit bercampur manis seperti kata Sanzu. Bittersweet.

Sayang hanya berakhir singkat. Sanzu masih cukup waras untuk tau waktunya berhenti.

“Udang rebus!” ledeknya, mencubit kedua pipi merah Rindou.

“Salah lo!”

Apa yang membuatmu berpikir aku begitu istimewa? Pertanyaan serupa timbul di benak keduanya. Namun terlalu malu, sehingga memilih bisu.

“Jadi, rasanya cinta bagaimana?” tanya Rindou mengingat pertanyaan aneh yang pernah dilontarkan Sanzu sepuluh tahun lalu.

“Kayak kamu, manis.”

“Jangan ngelantur!”

“Kamu presensi terindah yang pernah aku temui,” puji Sanzu, mengacak-acak surai ungu yang berkilauan.

“So, you love me?”

“Lebih dari itu?” Tawa Rindou pecah, yang ditertawai tidak tau di mana letak humornya.

“Apa yang lebih dari cinta?”

“Enggak tau? Aku ngasal, biar keren.”

“Sanzu memang aneh.”

“Tapi Rindou suka.” Skakmat.

“Ya ... iya...,” balasnya tersipu, disembunyikan ekspresi itu pada bahu Sanzu.

“Mau pulang?” Yang ditanya tidak menjawab, masih sibuk mendiamkan kupu-kupu.

“Sederhananya, kamu yang buat aku jatuh cinta.”

“Diem!”

“Kalau dunia nggak baik ke kamu, gapapa. 'Kan masih ada aku.”

“Gue pulang,” pamit Rindou berjalan lebih dulu. Tidak ada yang bisa diajak kompromi. Entah Sanzu maupun jantungnya, sama-sama gila.

Sanzu menyusul, menyelipkan jemari di antara milik Rindou yang lebih kecil.

Iya, Sanzu lupa akan fakta. Biarlah dia memiliki Rindou sekarang. Urusan semesta dan takdir, bisa dipikirkan nanti.

“Can I kiss you again?”

“SINTING, ENGGAK!”