Tiga Desember
tags : angst, kissing, insecurity
Kita pasti punya satu jenama yang amat disuka. Satu inisial bagai prosa asmaraloka. Satu jenama yang ingatkan bahagia.
Ditulis dari sudut pandang Inui Seishu, dibalut rindu, ditemani sarayu.
3 Desember
“Seyi!”
Segera kutolehkan kepala, menyawang sosok ceria berlarian membawa tas senada. Senyum lebar terpatri, surai hitamnya naik turun mengikuti iringan langkah.
“Koko? Tumben main ke rumah.”
Sesampainya sepuluh senti, ia mengatur pernapasan. Disodorkan barang bawaan padaku, terdapat sweater berwarna biru.
“Buat gue?”
“Yups! Warnanya adem, kayak lo.”
Gelak tawa spontan muncul, maklumi diriku yang humornya rendahan.
“Thanks!”
“Coba pakai, gue mau liat!”
Aneh, dia tidak pernah se-tergesa ini.
Jemariku menarik pergelangan kurusnya menuju kamar. Mana mungkin berganti pakaian di depan tetangga yang tengah bakar ikan.
“Tutup mata!” seruku dengan semburat merah muncul di kedua pipi sialan.
“Kita sering mandi bareng pas kecil. Gue udah liat keseluruhan badan lo.” Itu benar, benar-benar membuatku malu!
Segila apa aku, bertelanjang dada di depan yang kusuka sejak lama?!
“Buruan, jangan ngintip!”
“Iya-iya.” Sesuai titah, dipejamkan kedua netra. Menampilkan bulu matanya yang jatuh tenang. Sial, Tuhan memang tidak main-main saat menciptakan dia.
Wangi semerbak yang tidak bisa dideskripsikan menguar ketika plastiknya terbuka.
Setelah terpasang sempurna, aku berkaca. Sesekali berputar, melihat betapa elok diriku dalam balutan sweater lembut itu. Meski ukurannya terlalu besar sebab celana boxerku kini tertutupi.
“Cantik.” Demi Tuhan, sekujur badan bergetar hebat, merinding dengar rapsodinya. Aku ini sudah cukup gila karenamu, Koko. Kumohon jangan ditambah-tambah lagi.
“Gue belum suruh buka?!”
“Kelamaan, mata gue pegel!”
“Kayak nggak pernah tidur aja!”
Tok... Tok... Tok...
Disela keributan, pintu kamar terketuk dari luar, diikuti suara panggilan.
“Seishu? Bicara sama siapa?”
“Koko,” jawabku yang kemudian membukakan pintu.
“Ada Koko? Kakak enggak tau.” Kak Akane melirik ke arah Koko yang duduk manis di atas ranjang. Melempar senyum seteduh lembayung sore.
Siapa saja bisa terpikat, termasuk Koko. Lihat bagaimana pipinya ikut kemerahan disenyumi begitu.
“Ada camilan, mau diambilin?”
“Enggak usah, biar a—–”
“Aku yang ambil, kak.” Koko segera memotong kalimatku, bergegas pergi mengikuti Kak Akane menuju dapur. Meninggalkan yang berbaju biru mematung sendiri di depan pintu.
“Kak Akane cantik, ya?” tanyanya seraya melahap keripik singkong.
“Iya.”
“Sudah cantik, pinter pula.”
“Iya.”
Dibanding dia, aku bukan apa-apa. Tidak berguna, tidak bernilai, sering dicap mirip, meski terasa tak pantas. Kak Akane adalah segalanya yang bukan aku.
Mana bisa rongsokan samai primadona.
“Kalian mirip.”
Aku enggan menoleh maupun membalas, fokus mematahkan keripik menjadi beberapa bagian.
Sayangnya terpecah kala jari lentik Koko mengangkat daguku, memaksa untuk menatapnya.
Jika cukup jeli, akan ditemui air mata tertahan di dalam sana. Tapi aku ragu dia tau.
“Sama-sama cantik.”
Sepersekon setelahnya, bibir kami bersua. Yang selama ini kutahan tumpah jua. Mengalir tanpa mengenai kulitnya.
Hangat, tidak panas dan ganas seperti film romansa dewasa. Namun sukses buatku terbang ke angkasa.
Koko lantas melepas, buka mata dan kaget melihatku menangis. Ia usap dengan ibu jari tanpa panik. Jadi, bisakah aku anggap kecupannya sengaja?
“Kak Akane....”
Lucu ya, belum berperang sudah tertampik duluan. Ingin hilang dari buana, lepas ekspektasi yang tak sejalan.
“Aku Seishu.”
Pupilnya membesar, layaknya telah sadar. Koko hendak beri penjelasan, tapi gagal.
“Koko, Seishu, makan dulu!” Kak Akane kembali memanggil, waktunya makan malam.
“Seyi, gue—–”
“Ayo,” ajakku lirih sembari berjalan lebih dulu.
Toh, dia hanya akan berkata maaf.
Koko memilih duduk di samping Kak Akane, berhadapan denganku yang masih menunduk. Mereka mengobrol tanpa kenal suasana, seakan berdua saja, aku tidak ada.
Kendati tidak terlalu perhatikan, ekor mataku dapat menangkap lengan kiri Koko diam-diam melingkar di pundak Kak Akane.
Buatku makin nanar, meremat sendok erat-erat sampai tinggalkan bekas kemerahan.
Tapi bagaimana aku membencinya? Semua orang suka bintang, aku pun sama. Kak Akane bagai malaikat, suci tanpa lakukan kesalahan.
Tapi sekali lagi, aku harap dia tidak pernah ada.
“Seishu, habis ini kakak mau keluar.”
“Aku antar ya, kak?” Koko yang jawab, bukan aku. Dia tidak pernah lambat merespon belahan jiwa.
“Dijemput temen, kok! Kamu temani Seishu saja.”
Temani hidupku apa bisa?
“Siap! Kakak enggak ada baju yang lebih tebal? Di luar dingin banget, loh?”
Telapak tanganku juga dingin, Ko.
“Enggak ada, kotor semua. Gapapa, cuma sebentar.”
Koko melepas hoodie, memberikannya pada Kak Akane, menyisakan kaos oblong berwarna putih.
“Nih, kak. Aku nggak mau kakak sakit.”
Aku juga sakit karenamu, pernahkah kamu peduli?
Aku lekas berdiri, menghentakkan kedua telapak tangan di atas meja. Lumayan keras sampai Kak Akane melempar tatap khawatir.
“Sudah kenyang.” Kubawa pergi tungkai lemah yang hampir pasrah. Langkah lain terdengar mengikuti dari belakang. Pasti Koko.
“Seyi?!” serunya menahan lengan secara kasar. Kenapa dia seolah kesal?
“Lo kenapa?”
“Elo yang kenapa?!” balasku sedikit menaikkan nada bicara.
Alis Koko menukik, menaruh rupa bingung minta penjelasan. Padahal seharusnya dia tau. Harusnya dia mengerti.
“Kenapa nyium gue? I'm not even half as pretty. Perbedaannya kentara!” Harusnya dia bisa membedakan.
Tolong bilang sengaja. Yakinkan aku sekali saja. Berpura-pura, ya?
Bibir itu punyaku, yang singgah di benaknya malah orang lain. Dia buatmu terpesona, sedang aku mati dimakan realita.
“Maaf, Seyi. Lo tau sendiri gue suka siapa.”
Pintanya selalu Kak Akane. Tidak ada aku dalam ceritanya. Kadang benci menaruh hati, namun tak mampu cari pengganti.
Layaknya nabastala dan bentala, kita dua daksa tanpa izin semesta untuk bersama.
Mungkin sebatas teman saja. Yang hadir beri pundak, tampung keluhnya tentang tambatan hati. Sembari berandai jadi yang dicintai.
“Makasih sweaternya.”
Tiga Desember, tempatku mengubur duka. Baladanya berakhir tanpa harsa. Dari awal juga terbaca, dia tak rasakan renjana.