Astronomy

“Alright, uhm ... let me tell you a story. So, I met this boy at a place that i don't really remember.

All i know that he's so pretty, from head to toe. I couldn't stop myself from staring at him. I thought he's my one and only.

And his name was Suguru.”

Sebuah prosa singkat, dari sudut pandang Gojo Satoru.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤ ㅤKita berkendara, lewati hutan sambil dengarkan melodi. Di depan sana, terdapat bangunan besar menjulang tinggi.

Mereka menyebutnya perumahan orang kaya.

Sedang dua insan yang numpang lewat ini, hanya orang biasa. Tanpa uang, tanpa persiapan matang, tanpa tujuan pasti.

Hanya punya satu sama lain, masing-masing saling menjaga.

ㅤ”Kayaknya seru, ya?” tanyanya terlontar, sedang kedua mata masih kagumi sebuah rumah dihiasi bunga.

ㅤ”Jalan-jalannya?”

ㅤ”Maksudku jadi orang kaya!”

ㅤ”Setuju, aku bakal beli banyak ubi rebus!” Lantas ia menatapku, tatapan penuh ledekan.

ㅤ”Serius?!”

Kepalaku mengangguk yakin, ㅤ”Musim dingin sebentar lagi tiba. Ubi rebus yang hangat dan manis, cocok untuk menghangatkanmu.”

Dibuangnya pandangan jauh-jauh, berlagak tidak pernah dengar jawabanku barusan.

Secara sosial, kami ini sama. Ayah yang melarikan diri, dan ibu yang mabuk.

Kami telah menjelajahi lautan, menunggangi bintang-bintang. Kami telah melihat semuanya, dari Saturnus ke Mars.

Kami punya banyak kesamaan. Sampai mereka menyebut kami, “duo yang sempurna.”

Bukankah itu luar biasa? Menemukan seseorang yang mengerti dirimu.

Tapi, setiap hal punya batasannya. Seperti sebuah cerita tua yang berkata bahwa cinta muda tak bertahan seumur hidup.

Sekarang aku tahu, sudah saatnya untuk pergi.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ

ㅤBifurkasi tercipta diantara kami. Dari kejauhan, kuharap aku masih tinggal bersamanya.

Hari itu, kami sepakat berpisah. Suguru bilang kami tidak mungkin. Terlalu banyak celah, terlalu berbahaya.

ㅤ”Bukannya kita sama?” Suaraku parau, menahan tangis.

ㅤ”Enggak semuanya, enggak selamanya.”

ㅤ”Can we stay a little bit longer?”

ㅤ”It's okay, distance brings fondness.” Balasnya, yang aku percayai sepenuh hati.

Namun saat dipertemukan kembali, Suguru menjadi orang asing.

Satu-satunya kesalahan yang tidak kami lakukan adalah lari.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ ㅤ”Kenapa kamu menyukaiku?” Kepulan asap cerutu terhembus dari bibirnya yang menghitam. Sejak kapan Suguru begitu? Aku tidak pernah tahu.

ㅤ”Tiba-tiba saja.”

ㅤ”Pasti ada alasannya, Satoru!”

Apa alasan lain selain karna dia adalah Suguru?

ㅤ”Aku ini nggak sepintar kamu.”

ㅤ”Jangan mengalihkan pembicaraan, kebiasaan!”

Andai dia lihat isi otakku sekarang, benar-benar kosong. Padahal aku sudah menyusun kalimat yang akan kuucap bila bersua.

Sayang, semua buyar kala kulihat Suguru tanpa senyuman secerah dulu.

ㅤ”Salah ya, kalau aku bilang cuma kamu yang masuk akal?”

ㅤ”Bicara yang jelas!” Ketus, aku mulai melihat sisi Suguru yang kukenal.

ㅤ”Suguru, kalau jantungku berhenti, cuma kamu yang aku perlu, bersamaku.

ㅤ”Kalau dunia berguncang hebat, kamu satu-satunya yang setimpal untuk kubawa, bersamaku.”

ㅤ”Kalau langit tiba-tiba terbakar, dan aku punya kamu di sini, semua bakal baik-baik saja, bersamaku.”

ㅤ”Kalau—–”

ㅤ”I'm out of time.” Spontan Suguru memotong kalimatku.

Kupikir aku mengatakannya sepenuh hati, sampai bola mata ikut berair. Namun bagi Suguru, yang barusan itu bukan apa-apa.

Tatapannya datar, disertai cerutu setia masih terjepit di antara dua belah bibirnya. Sial, harusnya milikku yang ada di sana!

ㅤ”Maaf, kukira kita bisa....”

ㅤ”Berhenti membuat kita tetap hidup. You're pointing at stars in the sky that already dead. Kamu nggak bisa maksa bintang buat sejajar ketika mereka sudah mati.”

Aku sangat tahu maksudnya. Bintang itu, kami. Sama-sama mati, sudah tak bisa berpendar. Mulai redup, remang tanpa kasih sayang.

Malam ini, entah kenapa, ujung sepatuku lebih menarik untuk dilihat daripada netra Suguru.

ㅤ”Jadi ... kita beneran nggak mungkin?”

Aku harap masih ada harapan. Aku harap masih ada kesempatan. Aku harap dia kembali.

ㅤ”Kamu tau sendiri jawabannya.”

Aku mau Suguruku kembali.

Salah satu tanganku yang bebas, menyodorkan sekantong plastik.

ㅤ”Hadiah perpisahan?”

ㅤ”Ubi rebus, janjiku dulu. Jangan lupa always keep yourself warm.”

Karena sudah tak ada lenganku yang bebas memelukmu sepanjang malam. Karena bagimu dingin sudah bukan apa-apa. Benar 'kan, Suguru?

Suguru menerima pemberianku, seulas senyum terlukis di sana. Sedikit dipaksa, aku tidak menyukainya.

ㅤ”Thanks!”

ㅤ”Until we meet again, my friend.” Pertemuan singkat kami diakhiri dengan berjabat tangan.

Sebelum melintasi satu sama lain. Kembali asing, yang dulunya saling menjaga, sampai sekarang pun masih sama. Tentunya menjaga jarak.

Karna secara astronomis, kita dua dunia yang berbeda.


ㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ ㅤ ㅤㅤㅤㅤ “Astronomi adalah bidang ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai fenomena dan objek luar angkasa. Astronomi adalah sains, bukan sekedar asumsi atau angan-angan.”

“Diperlukan data, observasi, dan eksperimen, sampai akhirnya dibuat sebuah kesimpulan.”

“Dari semua hal tentangku dan Suguru, semua analisis tentang kisah kami, bukan sekedar asumsi.”

“It's astronomy, we're two worlds apart. Sebesar apapun aku menginginkan Suguru, mau menunggu sampai langit benar-benar terbakar pun, kenyataan berkata bahwa kita tak mungkin bersatu.”