Raga Tanpa Rahsa


September 2015

     “Aku pamit,” seulas senyum terukir pada rupa elok nan sendu.

     Jemari kasarnya mengelus lembut suraiku. Meninggalkan segelintir kenangan.

     “Kapan kita bersua kembali?” Tanyaku, bersama linangan air mata dari sudut netra.

     “Ketika dunia berkata 'sudah',”

     Kami saling menggenggam, sebelum akhirnya melepas harsa. Mengikhlaskan hati yang meronta.

     Skala terpaksa pergi, demi mimpinya. Sedangkan aku, harus rela menanggung rindu.

     Pesawat tempat Skala berada, telah mengudara mencapai nabastala. Menuju bumi bahagian selatan, dimana aku tak bisa merengkuhnya.

     Saban hari, Skala menyempatkan diri untuk menghubungi. Bertanya kabar atau bertukar humor.

     “Hari ini melelahkan,” eluhnya melalui sambungan telephone.

     “Rehat-lah sehari,”

     Skala memilih terkekeh, dan mengubah topik. Dia tidak pernah mendengar nasihatku.

     “Aku rindu,” suara serak Skala terdengar parau, terdapat kesungguhan dalam kata itu.

     “Aku pun begitu,”

     “Ingat janjiku, setelah ini akan ku bawa sebuah cincin di hadapanmu,” lanjutnya, lantas aku mengiyakan kalimat itu.

     “Aku mau melantunkan sebuah lagu untukmu,”

     Ku ambil posisi ternyamanku, menunggu Skala dengan melodi indah dari gitar dan suaranya.

“I sang a lullaby By the waterside and knew If you were here I'd sing to you You're on the other side As the skyline splits in two I'm miles away from seeing you I can see the stars From America I wonder, do you see them, too?”

     Isak tangisku pecah, seperti dirajam berkali-kali. Sedangkan Skala tertawa renyah sebelum mengucap selamat malam, sebagai akhir kata.


     Berita tentang Skala hadir di setiap lini masa. Aku menonton salah satu rekaman dirinya bernyanyi di hadapan buana. Tersenyum untuk sejuta pasang mata di luar sana.

     Saat malam tiba, Skala tetap mengabari. Lalu masa yang ku nanti datang jua. Skala hendak pulang bersua.

     “Aku segera datang,”

     Senyum kecilku terlukis tipis, meski sebenarnya aku membancang tangis.

     Hadirku tetap setia menunggunya pulang, sampai aku sadar, ternyata kata 'segera' adalah sebuah mimpi buruk.

Pesawat xxx yang membawa 60 orang dari Amerika menuju Indonesia mengalami kecelakaan, sebagian korban tengah dirawat di rumah sakit Amerika Serikat.

     Tatapanku nanar, air mata juga ikut memburai. Ditambah goresan dalam sanubari.

     Harapku kian memudar, tenggelam di dasar pikiran tanpa kesudahan.


Oktober 2015

     Kini korban kecelakaan pesawat bulan lalu, sudah dipulangkan.

     Aku mengedarkan pandangan, demi mencari Skala. Netraku pun terhenti pada daksa yang berjalan membelakangi.

     Sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya. Ketika ia berbalik, aku bernafas lega karena dugaanku benar.

     Skala terlihat baik-baik saja, tanpa luka. Tetapi mengapa nampak berbeda?

     Aku mencoba meraih lengannya, tetapi Skala menghindar. Manik hitamnya menatapku lamat-lamat, seolah tidak mengenali.

     “Skala..”

     “Kamu ini siapa?”

     “Jangan bercanda,” aku kembali mengulurkan jemariku, dan ia hempas begitu saja.

     “Aku tidak kenal kamu,” Skala kemudian pergi sembari menarik koper roda miliknya.

     Ting!

     Ponselku bergetar mendadak, menampilkan pesan yang hampir membuatku meledak.

Seorang penyanyi bernama Skala, dikabarkan mengalami amnesia setelah terbentur keras di kepala bagian belakang.

     Walaupun hatiku tersayat, aku mencoba tersenyum. Setidaknya aku sudah melihatnya. Sebab pintaku hanyalah bertemu.

     Akhirnya aku bersua dengan raganya, namun tanpa renjana yang sama.