kalau dunia cuma punya kita
ㅤㅤKedua netraku terpaku, pada lelaki yang duduk termangu, menunggu sesuatu.
ㅤㅤIngin rasanya kuhampiri, menanyakan bagaimana kabarnya hari ini. Tetapi, yang ia tunggu seketika mendatangi.
ㅤㅤ”Mereka barengan mulu, pacaran ya?” bisik beberapa siswi dibelakangku.
ㅤㅤAku menghela napas pasrah, pikirku pun juga sama.
ㅤㅤPhuwin, bisakah aku menjadi Neo-mu?
ㅤㅤDia yang bertahun-tahun mencuri pandanganku, bernama Phuwin.
ㅤㅤ Seseorang dengan kulit putih, paras lucu, serta senyuman yang teduh.
ㅤㅤSedangkan disampingnya, dia Neo. Kakak kelas yang berani dan berwibawa. Semua orang menyukainya.
ㅤㅤAku dan Phuwin berada di kelas yang sama. Sebuah kesempatan emas, tapi kami tidak pernah berbincang.
ㅤㅤSeolah ada dinding di antara kubuku, dan kubunya. Seolah beda dunia, seolah kita tidak tercipta untuk saling mencinta.
ㅤㅤKupikir semuanya sudah berakhir. Aku kalah, saatnya mundur dan mengalah.
ㅤㅤTapi ternyata, semesta masih berpihak padaku.
ㅤㅤ”Pond dan Phuwin, kalian satu kelompok.”
ㅤㅤBola mataku terbelalak lebar, aku langsung melirik ke arahnya. Phuwin menanggapi dengan senyuman kecil.
ㅤㅤBeberapa menit yang lalu, kami diminta mengambil kertas berisi nama seisi kelas.
ㅤㅤBagaikan takdir, aku mendapatkan namanya, begitupun sebaliknya.
ㅤㅤ”Mau ke sana?” tanya Phuwin sambil menunjuk biang lala.
ㅤㅤ”Nanti saja, kita mengelilingi kulinernya dulu,” balasku yang dijawab dengan anggukan.
ㅤㅤKami berdua mendapatkan tugas untuk mengobservasi lokasi wisata. Bagiku rasanya sudah seperti kencan pertama.
ㅤㅤPhuwin memainkan beragam permainan, sedangkan aku hanya ikut tertawa sambil diam-diam memotretnya.
ㅤㅤSial, melihatnya terus tersenyum, membuatku semakin tidak tau diri.
ㅤㅤTolong izinkan aku untuk egois, aku mau dia. Aku mau kita berdua tanpa orang ketiga.
ㅤㅤKak Neo, maaf ... bolehkah aku merebutnya?
ㅤㅤ”Pond,” panggilnya.
ㅤㅤ”Iya?”
ㅤㅤLalu Phuwin memakaikan sebuah topi berbentuk telinga kelinci di kepalaku.
ㅤㅤ”Lucu!” serunya dengan mata yang menyipit tiap kali menunjukkan gigi.
ㅤㅤTahan Pond, bibir itu masih belum menjadi milikmu. Ayo sadar!
ㅤㅤWaktu berlalu dengan cepat, kini langit sudah menggelap, menyisakan bintang bersama bulan yang belum seutuhnya.
ㅤㅤManik mata Phuwin berbinar tiap kali melihat pemandangan di luar kaca.
ㅤㅤRencana terakhirku hampir tuntas. Kami sedang berada dalam biang lala, hanya saja diriku belum siap angkat suara.
ㅤㅤTidak ada lain kali. Mari selesaikan hari ini. Meski nanti berakhir patah hati, tidak apa-apa, yang penting percaya diri.
ㅤㅤ”Phuwin....”
ㅤㅤ”Huh?” Phuwin pun mengalihkan pandangannya ke arahku.
ㅤㅤ”Aku tau kamu sudah terikat janji. Silahkan jika mau menolak atau membenci, itu terserah padamu.”
ㅤㅤPhuwin masih terdiam penuh tanya, menungguku menyelesaikan kata.
ㅤㅤ”Aku menyukaimu,” ucapku sembari memejam, tidak sanggup melihat reaksinya.
ㅤㅤSamar-samar kudengar Phuwin menghembuskan napas panjang.
ㅤㅤKemudian aku membuka mata, menyawangnya yang ternyata kembali menikmati pemandangan dari atas biang lala.
ㅤㅤApakah itu sebuah penolakan?
ㅤㅤ”Pond....”
ㅤㅤ”Kalau dunia cuma punya kita, kamu mau apa?” tanyanya.
ㅤㅤAda jeda cukup lama, sebab aku masih mencerna. Pasalnya ia bertanya tanpa bertatap mata.
ㅤㅤ”Kalau dunia cuma punya kita, aku mau bersamamu sampai tua.”
ㅤㅤ”Kalau dunia cuma punya kita, aku mau mengajakmu berkeliling kota,” lanjutku.
ㅤㅤLantas Phuwin tersenyum tipis, sedikit terlihat miris.
ㅤㅤ”Sayangnya dunia punya banyak cerita. Bukan cuma kita tokoh utamanya,” balasnya seraya melirikku dengan air mata yang mengalir di pipi.
ㅤㅤ”Abaikan saja perkataanku kalau itu membuatmu terganggu.”
ㅤㅤ”Kata siapa aku mempunyai janji?” tanya Phuwin.
ㅤㅤTiba-tiba salah satu tangannya yang bebas mengusap punggung telapak tanganku.
ㅤㅤ”Aku juga ... menyukaimu.”
ㅤㅤPada saat itu, detik itu juga, aku merasa menjadi manusia paling bahagia.
ㅤㅤ”Sayangnya kita sama-sama pria.”
ㅤㅤTapi dunia tidak mengizinkanku terlalu berbangga diri.
ㅤㅤ”I can't love you in public.”
ㅤㅤAku memang tidak tertolak, dia juga merasakan hal yang sama. Hanya kecewa.
ㅤㅤKecewa sebab dunia menjadi penghalangnya. Pandangan orang lain menjadi hambatan bagi Phuwin untuk menerima hubungan kami yang masih tabu.
ㅤㅤ”Aku akan mengikuti apapun keputusanmu,” balasku dengan memaksakan seulas senyum.
ㅤㅤAku terus menunggu, sampai pada hari ulang tahunnya. Hari di mana aku muak, hari di mana aku mau dunia tau bahwa dia milikku.
ㅤㅤSaat puncak acara, sebelum Phuwin meniup lilin dan mengucap harapan. Aku mengecup keningnya, dan tentu saja semua mata langsung tertuju pada kami.
ㅤㅤPhuwin sempat terkejut, bahkan kedua matanya berkaca-kaca.
ㅤㅤSetelah suara tepuk tangan mulai terdengar, Phuwin terlihat sedikit tenang.
ㅤㅤ”Be my boyfriend?” tanyaku tanpa basa-basi. Bisa kurasakan ia diam-diam mencubit pinggangku.
ㅤㅤLalu aku meraih jemarinya yang bergetar.
ㅤㅤ”Dunia memang bukan cuma punya kita.”
ㅤㅤ”Jangan dengarkan kalimat mereka. Aku mau kamu hanya mempedulikanku.”
ㅤㅤ”Jadi Phuwin—–” belum selesai aku berbicara, ia segera menyela.
ㅤㅤ”Iya, aku mau.”
ㅤㅤSorakan dari para tamu memenuhi gendang telingaku. Tampaknya hari ini menjadi hari paling mengesankan bagi semua orang.
ㅤㅤHari di mana ceritaku berakhir dengan akhir bahagia.
ㅤㅤNamun saat aku melihat tetesan darah dan setangkai bunga mawar tergeletak di lantai.
ㅤㅤAku menarik kembali opiniku tadi.