Pria Di Hari Selasa
Selasa, ialah hari yang sarat makna. Karena dengan baik hati, semesta mempertemukan kita. Di suatu kala, yang aku sebut tidak sengaja.
“Hari ini, bagaskara selalu bersembunyi di balik sang awan,”
“Hah?” Tanyaku, sembari menata rupa kebingungan dan ikut memandangi nabastala.
“Sebab ia tau, ada yang lebih indah darinya, dan itu kamu,” balasnya, di sertai sebuah tatapan yang mampu membuat para hawa porak poranda.
Seulas senyum tipis ditambah rupa seolah di cium tabir surya samar-samar, membuat ciptaan Tuhan yang satu ini semakin elok 'tuk di sawang.
“Aku?” Ujarku, masih dengan raut penuh tanya seperti orang bodoh. Sedangkan ia mengabaikannya, memilih untuk beranjak pergi.
“Aku pamit,”
“Tunggu, kamuㅡ” ucapanku lekas di potong tanpa dosa olehnya.
“Jingga,”
Sebenarnya, niatku bukanlah bertanya pasal inisial. Sebelum aku memperjelas kalimatku, sosoknya lebih dulu pergi entah kemana.
Lantas ia tak lagi hadir di hari-hari berikutnya, lenyap bak di sapu dunia.
Aku terus bertanya perihal Jingga hampir ke seluruh penjuru, balasan yang ku dapat tetaplah sama,
“Jingga itu tidak ada,”
Apa memungkinkan jika kemarin aku melihat hantu? Padahal senandika jelas yakin, dia tidak gaib.
Akhirnya aku kembali bersua dengan hari Selasa. Asaku kian pupus sebab sosoknya masih tak ku jumpa. Sampai langkahku terhenti di hadapan insan yang tersenyum samar.
“Halo April,” dahiku mengernyit, berpura-pura tidak tau.
“Aku Jingga, kamu lupa?” Ia perlahan mengangkat tungkainya mendekatiku yang memejam beberapa kali, memastikan kalau ini bukanlah imaji.
“Kamu tidak gaib?”
Jingga kemudian meraih jemariku, mengelusnya pelan-pelan. Menyadarkanku bahwa ia benar ada, hadirnya jelas nyata.
“Apa ini cukup untuk menjelaskan eksistensiku?” Bibir mungilku terkekeh pelan mendengar kalimatnya.
Entah sejak kapan suaranya menjadi candu bahkan lebih dari itu.
“April tidak rindu?” Aku dan dirinya baru saja bertemu, bagaimana bisa rasa rindu terbangun dalam sanubari? Terkadang ia lucu juga.
“Kamu sendiri?”
“Rindu berat,”
“Kalau begitu jangan pergi,” pintaku, meski renjana yang kurasa masih sedikit, namun melihat dia bisa membuatku tenang tanpa alasan.
“Akan ku coba,”
“April,” panggil sebuah suara yang familiar dari kejauhan. Sudut mataku menangkap pergerakan kaki seorang pria.
Tubuhku berbalik, menampilkan rupa Sagara, ketua kelas akselerasi.
“Kita perlu bicara,” lanjutnya, dengan kedua mata memicing tajam pada Jingga.
Sedangkan pria itu memberiku isyarat untuk ikut dengan Sagara. Lalu ia membawaku lumayan jauh dari Jingga.
“Jauhi dia,”
“Maksud kamu apa?” Sagara sempat menghembuskan nafas berkali-kali sebelum melanjutkan titahnya.
“Dia hanya singgah sebentar, Jingga sudah keluar dari sini. Setelah ini dia pergi, lebih dari kata aksa. Hidupnya tidak lama, April,” Sagara mengucapkannya dengan suara lirih, menahan tangis.
“Jingga sakit?”
“Sudah lama, tahun ini kesempatan terakhirnya menyapa dunia. Hari selasa lalu, ia datang untuk mengurus masalah keluarnya dari sekolah,”
“Entah kenapa hadir lagi, mungkin demi kamu,” benakku masih tidak mengerti, tetapi harsaku berteriak lirih.
Pita suara rasanya tersekat, getaran aneh bersama kekhawatiran memenuhi atma.
Aku berlari sekuat tenaga, pintaku hanya satu, bertemu Jingga. Sayang, yang ku sawang bukanlah sosoknya.
Melainkan sebuah ambulance, mengangkut daksa lemas memakai tandu.
Aku meringis melihat alat-alat terpasang di wajah dan sebagian tubuhnya.
Sedangkan Jingga berusaha membuka netra perlahan, melirikku yang sudah tidak karuan.
“Kamu di sini,” ucapnya samar, meski dibalik alat bantu pernapasan, senyumnya masih terukir jelas.
“Kenapa tidak bilang sebelumnya?”
“Aku tidak mau melihat tangismu pecah,” Jingga mengaitkan jari jemari kami, membuatku tenang sementara.
“Bisakah kamu tetap bersamaku?” Pintaku di selingi isak yang mendalam.
“Ada yang berkata 'The best part of loving someone, is to let them go,' “ Jingga segera melepas genggamnya, membuatku seakan kehilangan segalanya.
“Lepas aku, agar kamu bahagia,”
Mana bisa aku melepas asma yang hampir ku temu. Mana bisa aku melepas dia, yang membekas dalam kalbu.
“Aku suka kamu,” itulah kata terakhirnya sebelum sepasang matanya kembali memejam.
Sebelum tubuhnya kembali melemas, sebelum nafasnya berhenti berhembus.
Jingga benar pergi lebih dari kata 'jauh'. Kisahku bersama pria di hari selasa, pudar terkikis waktu. Meski begitu, senyum dan keteduhan netranya terus ada dalam harsa yang kaku.
Kita bukanlah sepasang rasa di waktu yang salah. Melainkan sebuah asa di waktu yang tak seharusnya.