kini, nanti, dan setelah ini
ㅤㅤSudah satu tahun berlalu dan hatiku masih memilihmu.
ㅤㅤSulit untuk melepas, meski lisanku berkata “ikhlas.”
ㅤㅤAda banyak cerita serta kenangan lama yang terukir jelas dalam ingatan.
ㅤㅤAku berada di sana lebih dulu. Dia tidak pernah tau, seberapa dalam lukamu.
ㅤㅤTidak tau, saat-saat tergelapmu. Tidak mengerti, segala keraguanmu.
ㅤㅤAku yang menyembuhkan, aku yang memulihkan, kenapa dia yang kau banggakan?
ㅤㅤPhuwin, bisakah aku menjadi Pond-mu?
ㅤㅤ”PondPhuwin one year anniversary.”
ㅤㅤJemariku mengepal, perlahan aku menarik napas dalam-dalam. Kalimat pada slogan tersebut sedikit merapuhkan hatiku.
ㅤㅤNantinya semua tamu akan membawa beberapa balon. Pond yang meminta.
ㅤㅤIa menghubungiku minggu lalu. Awalnya aku tak mau, tapi ini sudah saatnya merelakan bukan?
ㅤㅤDia telah melupakan semua kenangan bersamaku. Pasti aku juga bisa. Harus.
ㅤㅤPhuwin tidak perlu tau perasaanku. Cukup diriku dan Tuhan saja.
ㅤㅤKini semua orang tengah mengitari dua insan yang berdiri di tengah lapangan.
ㅤㅤMenyawang senyumnya yang terus mengembang, membuatku ikut senang.
ㅤㅤJika Pond adalah tempat bahagianya, lantas aku bisa apa?
ㅤㅤ”Happy anniversary,” ucap Pond seraya menyerahkan setangkai bunga mawar.
ㅤㅤHaha, seketika aku teringat pada mawarku yang tak pernah sampai padanya.
ㅤㅤPhuwin menerima, kemudian mereka mendekap raga satu sama lain.
ㅤㅤAneh rasanya, sebab dulu hanya aku yang melakukan itu.
ㅤㅤKetika mendengar aba-aba, kami menerbangkan balon masing-masing.
ㅤㅤAku mengeluarkan sebuah spidol, menulis jenama yang pernah 'hampir' kugapai.
ㅤㅤ' Phuwin '
ㅤㅤ”Aku menyukaimu,” ucapku.
ㅤㅤKemudian aku melepasnya, membiarkan ia terbang bersama rasa yang pernah ada.
ㅤㅤPhuwin itu bagaikan ikan di atas langit, mustahil dapat kuraih.
ㅤㅤ”Selamat.” Aku menyodorkan telapak tangan ke arahnya.
ㅤㅤPhuwin segera menjabat, dan memeluk tubuhku.
ㅤㅤ”Makasih sudah menemaniku selama ini, kak.”
ㅤㅤPelan-pelan aku menepuk punggungnya, seperti yang biasa kulakukan. Dulu.
ㅤㅤ”Kini, nanti, dan setelah ini, semoga bahagia ya ... bersamanya.”
ㅤㅤLalu aku beralih menepuk pundak Pond, seolah memberikan semua tanggung jawab yang sebelumnya kupegang teguh.
ㅤㅤ”Jaga dia baik-baik.”
ㅤㅤ”I will.”
ㅤㅤKini, nanti, dan setelah ini, aku tak lagi menjadi satu-satunya yang menemani.
ㅤㅤNamun yang pasti, aku sudah lega.
ㅤㅤAku meninggalkan kerumunan, memilih duduk seorang diri di kursi taman, tempatku dan Phuwin berbagi cerita. Dulu.
ㅤㅤ”Nih,” ucap seseorang yang mendadak memberi sebotol air mineral.
ㅤㅤ”Untukku?”
ㅤㅤ”Dari tadi kamu kelihatan pucat.”
ㅤㅤAku tersenyum tipis dan menerima pemberiannya. Kemudian ia ikut duduk di sampingku.
ㅤㅤ”Tidak ikut merayakan?” tanyaku.
ㅤㅤ”Kebetulan aku melihatmu pergi, jadi kuikuti.”
ㅤㅤ”Kenapa?”
ㅤㅤ”Berdua lebih baik daripada sendiri,” balasnya. Ia tersenyum lebar, senyum yang mirip dengan Phuwin.
ㅤㅤ”Aku Louis.”
ㅤㅤ”Neo.”
ㅤㅤSaat telapak tangan kami bersentuh, aku kembali merasakan hal yang sama.
ㅤㅤEuforia.
Euforia ; perasaan gembira yang berlebihan