jenama di atas sana
ㅤㅤSegelintir manusia berkata, 'Kalau kamu menulis nama pujaan hati di langit malam penuh bintang, maka dia akan menjadi milikmu.'
ㅤㅤDapatkah diri ini percaya? Siapa yang tau? Mungkin benar-benar terjadi.
ㅤㅤJenama di atas sana, ㅤㅤyang tengah menemani purnama. ㅤTerukir jelas walau tak kasat mata ㅤㅤAkankah kamu menjadi nyata?
ㅤㅤ”Aku laper, beli makan yuk?” ajakku.
ㅤㅤ”Ayo!”
ㅤㅤKami berjalan beriringan, sesekali punggung telapak tangan kami bersentuh secara tidak sengaja.
ㅤㅤAnehnya netraku terus terpaku, ingin segera meraihmu, tetapi aku malu.
ㅤㅤ”Way, awas!”
ㅤㅤSecara tiba-tiba, Kim menarik lenganku untuk menepi ke samping. Ternyata aku hampir saja menabrak tembok.
ㅤㅤ”Way?”
ㅤㅤ”Hm??”
ㅤㅤ”Lagi mikirin apa?”
ㅤㅤKamu
ㅤㅤ”E-enggak ada kok! aku laper banget, jadi gak fokus hehe!”
ㅤㅤDasar Way, pengecut.
ㅤㅤ”Oke kalau gitu, ayo cepat!” Kim kembali menarik lenganku, mengajakku sedikit berlari menuju kantin.
ㅤㅤTerus tarik aku, ke mana pun arahmu, aku mau.
ㅤㅤKetika pandangan kami bersua, Kim tersenyum lebar, senyum yang sama seperti satu tahun lalu.
ㅤㅤKami bertemu ketika terlambat dan menyelinap dari jalan rahasia.
ㅤㅤKim bukan siswa biasa, dia berbeda. Kim tak bisa berada dalam keramaian. Dia lemah, dia suka mengalah, padahal tidak kalah.
ㅤㅤKim tidak punya siapa-siapa. Aku tak pernah melihat satu orang pun berbicara dengannya.
ㅤㅤMereka beranggapan kalau Kim itu aneh.
ㅤㅤKim manusia, dia sama, hanya saja ...
ㅤㅤ”Aku trauma,” ucapnya dengan nada yang bergetar.
ㅤㅤKim menangis, terisak hebat, bahkan sempat ada jeda lumayan panjang.
ㅤㅤ”Mereka menyakitiku, ada banyak pisau tertancap di punggungku. Mereka terus memaksa, dan membentak.”
ㅤㅤPerlahan ibu jariku mengusap air matanya.
ㅤㅤ”Aku takut Way ... aku takut sendirian. Aku benci sendiri....”
ㅤㅤSial, aku jadi ikut menangisi nestapanya yang belum kuketahui dengan jelas.
ㅤㅤ”Kim, saat duniamu mulai pudar dan kamu merasa hilang. Aku akan selalu menjadi sayap pelindungmu.”
ㅤㅤ”Kalau kamu takut atau tersesat, di mana pun itu. Aku janji, i'll find you.”
ㅤㅤ”Kamu punya aku. Walaupun aku belum tentu memilikimu.”
ㅤㅤTangisnya semakin keras. Aku tidak mengatakan apa-apa lagi selain mendekapnya tanpa izin.
ㅤㅤ”Way,” panggilnya dengan suara serak yang hampir hilang.
ㅤㅤ”Kenapa?”
ㅤㅤ”Apakah semua yang berawal sedih, akan selalu berakhir miris?”
ㅤㅤ”Gak juga,” balasku.
ㅤㅤ”Bisakah orang sepertiku mendapatkan happy ending?”
ㅤㅤSpontan aku melirik ke arah Kim yang tengah bersandar di bahuku. Kami berdua duduk di atas pasir pantai, menunggu mentari pulang ke rumahnya.
ㅤㅤ”Apa kamu mau mencobanya?” tanyaku.
ㅤㅤ”Mencoba apa?”
ㅤㅤ”Membuat akhir yang bahagia bersamaku.”
ㅤㅤSenyum di bibirnya melebar, Kim mengangguk cepat tanpa merubah posisi. Dia tidak memandangku sama sekali.
ㅤㅤMatahari terbenam dengan cepat, samar-samar kulihat air mata mengalir di pipinya.
ㅤㅤ”Way....”
ㅤㅤ”Hm?”
ㅤㅤ”Sudah waktunya bangun.”
ㅤㅤAh ... sudah pagi, ya?
ㅤㅤ”Aku masih mau bersamamu.”
ㅤㅤKim mengangkat kepalanya, kemudian menangkup kedua pipiku menggunakan telapak tangannya.
ㅤㅤLangit yang gelap, membuyarkan setengah penglihatanku.
ㅤㅤ”Tempatmu bukan di sini ... relakan aku,” pintanya.
ㅤㅤPerlahan aku menyentuh pipinya juga, menyeka air mata yang sempat membuatku ragu.
ㅤㅤ”Maaf, karena belum berhasil.”
ㅤㅤ”Gapapa....”
Kami saling menempelkan dahi satu sama lain, sebelum diriku terbangun dari mimpi panjang.
ㅤㅤMenjalani hari yang sebenarnya. Hari-hariku tanpa kim, sebab ia sudah lebih dulu menyapa Tuhan.
“Seorang siswa berinisial “K” melompat dari lantai tertinggi gedung sekolahnya.”
“Korban diduga telah mengalami gangguan mental dan mendapatkan kekerasan fisik dari kedua orang tuanya selama bertahun-taun.”
ㅤㅤHai, Kim.
ㅤㅤSemalam aku bermimpi tentangmu. Gila, aku masih sulit menerima fakta.
ㅤㅤApa kamu ingat? Tanpa rasa takut, saat ada hal yang ingin kita lakukan, kita langsung melakukannya.
ㅤㅤTidak peduli apa kata orang lain. Kita tetap mencobanya, hanya karena terlihat menyenangkan.
ㅤㅤSaat itu kita sangat gembira. Namun sekarang kamu pergi.
ㅤㅤDaripada terluka memikirkanmu, aku mencoba tertawa sembari mengenang hari-hari yang kita habiskan bersama.
ㅤㅤApa kamu ingat? Dulu aku pernah berkata,
ㅤㅤ”Untukmu, aku bisa menunggu selamanya. Ke manapun kamu pergi, aku akan mengikutimu.”
ㅤㅤ”Jika kamu pergi ke Mars, aku akan belajar dengan giat agar bisa bekerja untuk NASA.”
ㅤㅤTetapi kalau kamu pergi menembus awan. Apa yang bisa kulakukan selain merelakan?
ㅤㅤKim.... Tolong berjanjilah padaku. Tersenyumlah, jangan terluka lagi. Berbahagialah di sana, di atas awan.
ㅤㅤKepada jenama di atas sana, ㅤㅤyang aku janjikan bahagia. ㅤㅤNamun sudah terlanjur aksa, ㅤㅤ'tuk dapat disawang mata.
ㅤㅤTernyata benar kata orang-orang. Aku sudah mencoba mengukir nama Kim di langit malam.
ㅤㅤSayangnya, dia tidak jadi milikku, melainkan milik Yang Maha Kuasa.