romansa patah hati

ㅤㅤada yang aneh pada nabastala. ada bayang yang aku kenal sejak lama. rupa indah yang jauh dari atma.

ㅤㅤkusebut dia, romansa patah hati.

ㅤㅤyang aku harap jadi euforia. namun ternyata angan-angan saja.


ㅤㅤ”phuwin!” panggilku pada laki-laki yang berdiri di depan gerbang sekolah.

ㅤㅤphuwin tangsakyuen

ㅤㅤsudah menjadi kebiasaan bagiku, membaca name tag di baju seragamnya tiap kali bertemu.

ㅤㅤaku bukan orang yang pelupa. mana mungkin melupakan inisial yang kutulis tiap purnama?

ㅤㅤ”kak?”

ㅤㅤ”iya?”

ㅤㅤ”ingat yang aku katakan kemarin?”

ㅤㅤkepalaku segera mengangguk antusias.

ㅤㅤ”jangan lupa datang, ya?”

ㅤㅤphuwin mengundangku ke rumahnya. hari ini ulang tahunnya yang ke delapan belas.

ㅤㅤentah siapa saja yang akan datang. setauku phuwin tidak punya teman dekat selain diriku.

ㅤㅤ”oke, sampai ketemu nanti!” phuwin melambaikan tangan seraya berjalan memasuki mobil jemputan.

ㅤㅤpadahal aku menawarkan tumpangan, tapi ia enggan dan memilih pulang dengan kendaraan pribadi.

ㅤㅤsesekali aku berkhayal, menikmati senja bersama dia yang kusuka.

ㅤㅤbergandengan tangan, menautkan jari jemari, dan melepas beban masing-masing.

ㅤㅤduduk berdua di atas bukit, dengan dia bersandar di bahuku.

ㅤㅤinginku bukanlah asmaraloka penuh warna. bukan kisah cinta yang dipandang mesra.

ㅤㅤcukup kamu dan aku saja. cukup semesta yang tau kita.

ㅤㅤsayangnya, imajinasiku terlalu aksa 'tuk jadi nyata.


ㅤㅤkemeja biru dongker serta celana jeans berwarna hitam, membalut tubuhku yang tak sempurna.

ㅤㅤaku menghela napas panjang sembari menatap wajah di cermin.

ㅤㅤ”mari rampungkan kisahmu, neo,” kataku, bermonolog seorang diri.

ㅤㅤterkadang aku berpikir, dari mana semuanya dimulai?

ㅤㅤperasaanku lumayan pelik untuk diterjemahkan. ada banyak bifurkasi yang menuntun menuju jalan buntu.

ㅤㅤsedari tadi aku menggenggam setangkai bunga mawar yang akan kuberi.

ㅤㅤdi sanalah dia, tengah berbincang dengan seseorang yang tampak asing.

ㅤㅤekspektasiku salah, kami tidak hanya berdua. phuwin mengundang beberapa teman angkatannya yang tentu tidak kukenali.

ㅤㅤperlahan langkahku menghampiri, berniat mengajaknya ke luar.

ㅤㅤsenyum di bibirku masih tetap mengembang lebar. karena pikirku setelah ini aku merasa lega.

ㅤㅤpikirku aku akan baik-baik saja. pikirku semuanya dapat berjalan lancar.

ㅤㅤtetapi ketika lawan bicaranya tiba-tiba merengkuh tubuh phuwin, kedua kakiku membeku di tempat.

ㅤㅤplok plok plok

ㅤㅤsuara tepuk tangan mulai menggema. semua tamu bersorak kepada dua insan yang saling mendekap di hadapanku.

ㅤㅤkubuang jauh-jauh dugaan aneh yang semakin menjatuhkan diri.

ㅤㅤtenang saja, mungkin lelaki itu sedang memberi ucapan selamat.

ㅤㅤmungkin mereka hanya sebatas teman. dia yang dianggap teman, atau aku?

ㅤㅤgenggamanku semakin erat. darah segar mengalir dari jemari. tanpa kusadari terdapat duri pada mawarku.

ㅤㅤharusnya aku meringis, namun aku malah tersenyum miris.

ㅤㅤkini laki-laki tadi mengecup kening phuwin. mengucapkan kata 'cinta' yang dibalas sama olehnya.

ㅤㅤlantas mengapa aku masih menaruh hati, pada dia yang membuatku mati?

ㅤㅤbadanku berbalik, berjalan menjauh dengan senyum nestapa serta darah yang belum mengering.


'semalam aku menangis sembari melihat bintang. lucunya mereka mengingatkanku padamu.

aku tau harus melepasmu yang bukan untukku, sangat menyakitkan mengetahuinya.

mungkin suatu saat nanti kita bertemu. meski hanya dalam mimpiku, itu tidak apa-apa.

sekarang aku sadar, yang selama ini menjemputmu dia bukan? pond naravit? namanya terdengar cocok disandingkan denganmu.

bodohnya aku, bertahan terlalu lama pada sesuatu yang sudah kuketahui bukan milikku dari awal.

kamu tak perlu khawatir, karena aku terlalu takut untuk jatuh cinta lagi.

semoga bahagia, harsaku yang belum rampung.'

dariku yang gagal menyelesaikan prosa – neo