Tentang Piano dan Sebuah Luka

⠀⠀Namanya Wonpil, lahir tahun '94 di bulan April.

     Kami berteman sejak kecil, tumbuh besar menghadapi kerasnya buana yang tak adil.

     Kemanapun haluan membawa, kami selalu bersama. Meski nantinya ditimpa bencana, meski sama-sama mengantongi luka.

     Tapi... Wonpil pernah bilang, kalau itu 'gapapa.'

     Canda tawa, isak tangis, seruan emosi, kami saling membagi, saling merasa, saling mengeluh dan bertanya.

     Perihal kenapa dunia sebegitu kejamnya? Pada remaja yang belum dewasa.

     Netra cokelatku beradu dengan manik hitamnya. Tampak gagah berani padahal tengah menggandeng luka.

     “Mama pergi lebih dulu, dan kenapa aku tidak boleh ikut saja?” tanyanya lirih.

     “Kalau kamu pergi, lantas aku sama siapa?”

     Tangis yang ia tahan akhirnya tumpah juga. Daksa yang mengaku kuat akhirnya rapuh tak berdaya, bersandar dibahuku yang sama hancurnya.

     Tidak. Itu bukan kenangan terpahit kami, bukan bencana terbesar kami, bukan tamparan terkeras untuk kami.


     Pada rumitnya kehidupan, ada tiga hal yang Wonpil sukai. Mama, Yang Maha Kuasa, dan piano.

     Wonpil sering melantunkan elegi yang sukar 'tuk ku mengerti.

⠀⠀Dibarengi raga berselimut luka, ia menekan asal tuts piano dihadapannya.

     “Ajari aku,” ucapku sembari menarik kursi.

     “Biar aku menangis juga.”

     Biasanya luka itu kami bagi berdua, biasanya tangis itu dilakukan berdua.

⠀⠀Sayangnya, semenjak Wonpil kehilangan separuh semestanya... dia lebih suka menyendiri saja.

     Lantas mana bisa aku membiarkannya larut dalam kesedihan? Mana tahan melihat yang ku sayang terus rapuh secara perlahan?

     Iya. Aku menyayanginya.

     Lebih dari teman masa kecil. Lebih dari partner patah hati. Lebih dari batas yang aku miliki.

     Wonpil tidak pernah tau apa yang dimainkannya. Serta tak pernah tau, kalau diam-diam diriku menaruh asa.

     Relung hati ikut tertawa. Menertawakan luka yang berdiri dengan sendirinya.

     Aneh bukan?

     Belum ku terima penolakan, tetapi seolah sudah tertampik di garis terdepan.

     “Mari terus bersama, sampai waktu yang nanti semesta cipta.”

     Katanya waktu itu, membekas dalam kalbu. Meski aku tau, dia cuma bergurau.


     Setelan jas berwarna hitam terbalut rapih pada tubuh jenjangnya. Anak-anak rambutnya tertata dengan indah, membuat Wonpil semakin mempesona.

     Wonpil berdiri di atas sana, tersenyum ramah kala melihatku datang ditemani gaun simple putih polos.

     Perlahan langkahku berjalan mendekati altar pernikahan.

     Lalu duduk di atas kursi, di hadapan piano. Memilih lagu seorang diri, karena itu yang dia mau.

     Dulu Wonpil yang memainkannya untukku.

     Kini giliranku yang mengiringinya, —bersama seorang wanita yang tengah dipandang mesra.

     Padahal hari ini, harusnya aku turut euforia. Padahal detik ini, harusnya aku menikmati.

⠀⠀Padahal lagu ini, bukan elegi.

     “Bagus, apa judulnya?” tanya Wonpil yang menghampiri.

     “Je Te Veux, karya Erik Satie.”

     Wonpil kembali tersenyum, namun kali ini ditemani sang istri. Kali ini bukan lagi remaja labil. Kali ini dia telah sepenuhnya dewasa.

     Jemarinya meraih bahuku, menepuk pelan, seraya mengucap terima kasih telah menjadi seorang teman.

     Andai dia tau, alasan aku memilih lagu itu.

     Lukaku masihlah sama, tapi... 'gapapa.'

     Gapapa, asalkan dia gak merasakannya juga.

     “Selamat menyusun harsa.” —dan aku, akan mulai menulis nestapa.

'Kau dan aku saling membantu, membasuh hati yang pernah pilu. Mungkin akhirnya tak jadi satu, namun bersorai pernah bertemu.'